Mencoba Kristik

Pada dasarnya saya memang menyukai kristik sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Tapi mengurungkan niat untuk berbisnis kristik dan memilih rajutan karena setahu saya bahan-bahan kristik agak sulit ditemukan di toko-toko jahit konvensional.

Dan ternyata..dengan semakin menjamurnya online shop, produk kristik pun dijual melalui online shop. Lebih praktis malah, karena dijual dalam bentuk paket yang terdiri dari benang, kain strimin dan polanya.

Inilah 3 buah yang sudah saya selesaikan. ^^

Bisa dibeli yah. Hehe

DSCF0794

Cantik ya..

Masih ada 3 paket lagi bergambar gadis Korea imut ini.

Tunggu kelanjutannya ya

Shavi’s Jasa Pengetikan dan Penerjemahan Online

Bismillah..
Usaha baru, semoga berkah.

Shavi’s menyediakan jasa pengetikan untuk bahasa Korea, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Pengetikan dari file berbentuk PDF, foto atau gambar ke bentuk Ms. Word.
Tarif pengetikan: Rp 10,- per kata
Kami menjamin keakuratan pengetikan dan kerahasiaan naskah Anda.
Kami juga menyediakan jasa penerjemahan dengan pasangan bahasa:
a. Bahasa Korea <> Bahasa Indonesia
b. Bahasa Inggris <> Bahasa Indonesia
Kami menerima penerjemahan dokumen, maupun naskah-naskah lain. Tarif penerjemahannya akan disesuaikan dengan jenis naskah.
Kami menetapkan tarif per kata baik untuk pengetikan dan penerjemahan. Sehingga biaya pengetikan dan penerjemahan dapat dihitung dengan tepat. Kami menyediakan jasa berbasis daring (online). Naskah-naskah yang akan diketik maupun diterjemahkan, bisa dikirimkan kepada kami melalui surel.
Anda membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan kedua pekerjaan tersebut? Pastikan segera menghubungi kami melalui surel [marsashabrina23 et gmail dot com]

 

Kimchi bokkeumbap (김치볶음밥)

Masih seputar olahan kimchi. Seperti yang saya tuliskan pada tulisan khusus tentang kimchi, kimchi bisa digunakan untuk campuran beragam makanan Korea lainnya. Kali ini saya membuat nasi goreng kimchi. Dalam bahasa Korea disebut kimchi bokkeumbap (김치볶음밥). Tak perlu lagi menambahkan bawang putih, bawang merah, garam dan gula. Sederhana bukan. Tapi rasanya tak kalah enak dengan nasi goreng yang biasa saya buat.

DSCF0573 edit

Bahan-bahannya adalah:
a. Nasi (untuk 2-3 porsi)
b. Kimchi (saya menggunakan kurang lebih 5 sendok makan kimchi)
c. Beberapa sendok air kimchi (saya menggunakan 2-3 sendok makan)
d. Air (saya menggunakan 3 sendok makan)
e. 2 sdm gochujang
f. 3 sdt minyak wijen
g. 1 sdt minyak (untuk menumis)

Cara membuat:
1. Panaskan minyak dan tumis kimchi selama kurang lebih 1 menit.
2. Tambahkan nasi. Kemudian aduk sebentar.
3. Tambahkan gochujang, air kimchi dan air. Aduk semuanya sampai merata. Air digunakan agar nasi tidak kering dan menempel di dasar penggorengan.
4. Tambahkan minyak wijen, aduk rata dan diamkan kurang lebih 1 menit sampai matang.

Rasanya gurih, pedas, dan minyak wijen membuat rasanya menjadi khas. Minyak wijen adalah salah satu bahan makanan yang sering digunakan dalam makanan-makanan Korea. Sederhana bukan?
Resep asli dan tutorialnya bisa dilihat disini ya http://www.maangchi.com/recipe/kimchi-bokkeumbap

Saya kemudian menambahkan bawang goreng untuk taburan dan 1 buah telur untuk lauk. Pada resep aslinya ditambahkan wijen dan kim (김). Kim adalah rumput laut kering. Mungkin kita lebih mengenalnya dengan sebutan nori, lembaran rumput laut kering yang biasa digunakan untuk membuat sushi dan kimbap (김밥) dalam bahasa Korea. Tapi karena kedua bahan ini tidak tersedia di rumah, jadi saya menggunakan bahan-bahan yang ada.

DSCF0578 edit

Selamat mencoba..

Kimchi (김치)

Adakah yang belum pernah mendengar nama kimchi?
Para pecinta drama Korea mungkin sudah tidak asing mendengarnya. Kimchi adalah makanan khas dari Korea Selatan, terbuat dari sawi putih (napa cabbage) mentah yang difermentasikan. Kimchi yang dibuat dari sawi putih disebut thongbaechu-kimchi (통배추김치). Menurut banyak penelitian, kimchi baik dikonsumsi untuk membantu menjaga sistem pencernaan. Kimchi juga mengandung banyak mineral-mineral penting yang dibutuhkan oleh tubuh, karena terbuat dari sayuran yang masih segar tanpa melalui proses dimasak.

Kimchi hampir selalu ada dalam daftar menu makanan setiap hari masyarakat Korea. Dosen bahasa Korea saya dulu pernah bercerita, mereka bahkan bisa makan nasi hangat hanya dengan lauk kimchi. Orang-orang Korea akan merasa menu makanannya tak lengkap tanpa kimchi.

Selain dari sawi putih, kimchi juga bisa dibuat dari kubis dan lobak. Kimchi lobak ini disebut kkakdugi (깍두기). Lobak dipotong dadu kemudian dicampur rata dengan bumbu kimchi dan difermentasikan. Sedangkan kimchi yang dibuat dari kubis disebut yangbaechu-kimchi (양배추김치)

Bagaimana rasanya? Rasanya pedas, asam dan sedikit asin. Mungkin akan terasa aneh di lidah orang Indonesia yang pertama kali mencobanya. Rasanya yang semakin asam menandakan bahwa kimchi sudah melalui proses fermentasi beberapa lama. Sekarang masyarakat Indonesia bisa dengan mudah menemukan kimchi di swalayan-swalayan besar. Bagi saya harganya cukup mahal, karena memang langsung diimpor dari Korea. Rasanya pun sudah cukup asam di lidah saya.

Ini adalah kimchi dalam kemasan yang saya beli tahun lalu di salah satu swalayan besar di Bogor. Tidak perlu khawatir, kimchi ini sudah mendapatkan label halal dari Korea Muslim Federation Halal Committee. Insya Allah halal dan aman.

10678770_890025001009045_864196217969942147_n edit

Lalu saya terpikir untuk mencoba membuatnya sendiri (karena terlalu mahal kalau membeli yang kemasan, hehe). Kimchi yang saya buat ini menggunakan resep yang sangat sederhana. Ini adalah tutorial untuk membuat kimchi dari kubis yang resepnya saya gunakan http://www.maangchi.com/recipe/yangbaechu-kimchi
Jika dalam tutorial tersebut menggunakan bahan dasar kubis, saya menggunakan bahan dasar sawi putih. Untuk resep dan cara membuatnya sama seperti dalam tutorial tersebut. Semua bahan yang saya gunakan adalah bahan lokal, yang bisa dengan mudah ditemukan di pasar.

Pertama yang saya lakukan adalah memilah lembaran sawi putih yang baik dan segar. Setelah itu saya potong-potong untuk memudahkan saya dalam proses pengasinan, karena saya tidak punya wadah yang cukup besar.

Kemudian saya taburi dengan garam secukupnya hingga merata dan diamkan selama kurang lebih 30 menit. Setelah 30 menit sawi putih akan mulai layu dan lentur. Saya aduk rata kembali dan didiamkan lagi beberapa menit.

Ini adalah sawi putih yang sedang diasinkan.

10155510_952467891431422_8481175338904222876_n edit

Setelah didiamkan lagi selama beberapa menit, saya membilas semua sawi putih ini dengan air mengalir sebanyak dua sampai tiga kali. Kemudian ditiriskan.

Langkah berikutnya adalah menyiapkan bumbunya. Bumbu untuk kimchi yang saya gunakan adalah: cabe bubuk, kecap ikan, sedikit kecap asin, bawang putih yang sudah dicincang halus, dan potongan daun bawang.
Saya juga menambahkan irisan wortel. Setelah bumbu tercampur rata saya mulai membalur sawi putih dengan bumbu kimchi.

Setelah semua sawi putih sudah terbalur dengan bumbu merah, saatnya kita meletakkannya dalam wadah kedap udara. Kimchi sudah dapat dimakan saat itu juga. Tapi tidak ada rasa asam karena belum melalui proses fermentasi.
Untuk proses fermentasi, letakkan wadah berisi kimchi ini pada suhu ruang kurang lebih selama 24 jam. Saya meletakkannya begitu saja di atas kulkas.

*Tips: masukkan kimchi ke dalam wadah sedikit demi sedikit sambil ditekan-tekan. Sehingga tidak terlalu banyak udara yang tertinggal di dalam.

DSCF0555 edit

Malam harinya, saya makan malam berteman kimchi. Yang saya buat lebih cocok di mulut saya, karena belum terlalu asam dan tidak terlalu asin. Alhamdulillah, percobaan pertama membuat kimchi berhasil..
Kimchi juga bisa digunakan sebagai campuran untuk beragam makanan Korea yang lain.. Tunggu eksperimen saya berikutnya ya.. ^^

DSCF0568 edit

Combro… Combro…

Combro.. Combro…

Begitu setiap hari yang saya dengar sejak sekitar dua bulan yang lalu. Suara seorang bocah yang berjalan keliling kompleks perumahan saya untuk menjajakan combro. Di tengah teriknya matahari Palabuhanratu, kaki kecilnya terus melangkah sambil membawa sekeranjang berisi combro. Seakan tak peduli dengan lengan tangannya yang melegam, keringat yang membasahi topi dan pakaiannya.

“Cooommbrrooo… Cooommbroooo.. Bu, badhe Bu?”

Begitu ia berteriak sambil berjalan menghampiri setiap rumah yang pintunya terbuka..

Sejak kemunculannya di sekitar rumah dua bulan lalu, saya tak begitu peduli. Baru sekitar satu minggu yang lalu saya membeli combronya. Iba.. Ada perasaan iba ketika melihat bocah kecil itu berpanas-panas setiap hari menjual combro.

Setelah beberapa kali membeli combro barulah saya tahu siapa bocah kecil itu.Namanya Harisman. Biasa dipanggil Haris, dan saat ini masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Haris tinggal di desa Cibarengko (di balik bukit yang ada di samping komplek rumah saya). Dia adalah anak terakhir dari 7 bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai pengambil pasir di Sungai Cimandiri, ibunya adalah ibu rumah tangga. Sebagian kakaknya sudah menikah, ada yang tinggal di Palabuhanratu, ada yang merantau jauh ke Pulau Sulawesi. Dan ada juga kakaknya yang tak mampu menyelesaikan pendidikannya di SMP.

Setiap hari sepulang sekolah Haris berjualan combro. Si pemilik combro mengantarkan Haris dengan motor sampai ke perumahan tempat Haris berjualan. Dan untuk pulang, Haris naik angkot dengan membayar seribu rupiah. Begitu setiap hari rutinitasnya sepulang sekolah. Haris menjualkan combro milik orang lain dan mendapat upah sekedarnya tergantung dari hasil penjualan. Jika semua combro yang dijualnya habis, Haris mendapat upah lima belas ribu rupiah. Kemarin ia menjual gethuk (kue yang juga terbuat dari singkong), tak laku banyak.. Dan Haris hanya mendapat upah seribu lima ratus rupiah atas usahanya berjualan keliling kompleks di tengah terik matahari. Ada yang menggenang di mataku saat mendengar pengakuan polosnya.

Suatu ketika kutanyakan mengapa ia berjualan combro. Dia menjawab dengan polos, “Uangnya ditabung Teh. Saya malu kalo minta ke orangtua. Uangnya saya simpen. Kalo saya lagi butuh, saya pake. Buat bayar keperluan sekolah.”Saya bisa memahami jawaban dan maksud baiknya. Di kota kecil ini, di beberapa desa pelosok masih banyak keluarga-keluarga kurang mampu (begitu menurut pengamatan suami saya yang sudah lebih lama tinggal disini).

Beberapa minggu lalu saya juga melihat seorang bocah laki-laki kecil, mungkin seumuran kelas 5 SD. Tangan kanannya memegang karung dan pengait, mungkin dia adalah seorang bocah pemulung. Ia berdiri tertegun melihat sebuah poster yang dipasang di depan sebuah bank. Entah apa yang begitu menarik perhatiannya.

Tiba-tiba saja ada yang mengalir begitu saja dari mata saya. Tak mau berhenti. Suami saya menghentikan mobil tak jauh dari tempat bocah itu berdiri. Saya turun dan memberikan sedikit untuknya. Saat ku tanya dimana rumahnya, ia menjawab dengan bahasa Sunda yang saya tak tahu artinya. Ku tanyakan pada suami, yang dia ucapkan artinya ‘tidak punya’. Dia tidak punya rumah.

Saat berbalik arah, aku melihat poster yang menarik perhatian bocah kecil itu. Ternyata poster itu bergambar beberapa bocah yang tertawa lepas sambil berjalan menggunakan sepatu roda. Miris…

Saya dan suami, kami merencanakan untuk memberikan bimbingan belajar kepada Haris dan beberapa teman sekolahnya tiap satu minggu sekali di rumah kami. Berbekal pengalaman menjadi pembimbing privat anak-anak selama beberapa tahun di Malang, saya ingin memulainya lagi. Di tempat ini.. dimana banyak anak-anak perlu mendapatkan perhatian dan motivasi lebih. Insya Allah, bimbingan untuk Haris dan teman-teman sekolahnya akan kami mulai pekan ini. Kami juga berniat memberikan bantuan-bantuan lain untuk Haris dan teman-temannya.

Mulai sekarang, sebagian dari hasil penjualan Shabrina Handmade Crochet yang saya kelola akan saya sisihkan untuk membantu Haris dan teman-temannya. Saya sisihkan untuk membantu proses bimbingan belajar mereka.Kepada teman-teman saya yang sudah memesan dan membeli barang-barang rajutan buah tangan saya, saya ucapkan terima kasih. Insya Allah sebagiannya akan saya salurkan untuk anak-anak yang membutuhkan.

Ke depannya, saya juga berniat untuk memberikan pelatihan keterampilan merajut kepada teman-teman perempuan Haris. Supaya mereka juga bisa berkreativitas dan produktif. Insya Allah…

Kami menawarkan dan mengajak teman-teman yang memiliki rezeki berlebih dan ingin berbagi kepada anak-anak yang membutuhkan, untuk ikut bergabung dengan kami. Sedikit yang teman-teman sisihkan, insya Allah menjadi berkah dan sangat bermanfaat bagi anak-anak yang membutuhkan.

Di tengah semua keterbatasan yang mereka dan kita miliki, semoga kita tetap bisa mengukir pelangi harapan di wajah-wajah mereka… untuk berani bermimpi, untuk berani memiliki cita-cita, untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Insya Allah..

Mohon doa dari teman-teman semua semoga kami istiqamah dan yang kami usahakan benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak yang membutuhkan.

stock-illustration-9279436-happy-little-children-jumping-on-hill-underneath-a-rainbow

-Viki & Marsa-

Ooo.. Ini Kantornya Pak Menpora…

Kompleks Kantor Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Senayan, Jakarta
15 Oktober 2010

Aku memulai perjalanan dari Malang dengan kereta Gajayana tujuan Jakarta pada sore hari tanggal 14 Oktober. Kali ini tidak sendirian. Ditemani 2 orang kawan yang juga berkepentingan ke Jakarta, Mas Budi dan Raka. Kalau tujuanku ke Jakarta untuk ikut mengikuti acara Indonesia-Korean Week, Mas Budi dan Raka akan menjadi pemateri pada sebuah acara workshop di salah satu universitas swasta besar di Jakarta.

Sepanjang perjalanan, aku banyak bertukar pikiran dengan Mas Budi.. tentang sebuah perjuangan mencari jati diri seorang anak manusia di tanah perantauan.. sungguh luar biasa..
Terima kasih sudah menularkan semangatnya padaku Mas.. walaupun belum bisa sehebat dirimu..
semoga suatu saat nanti juga bisa banyak dan lebih banyak berbagi untuk sekitar..

Sekitar jam 8.30 esok paginya kereta kami sampai di Stasiun Gambir Jakarta. Om-ku yang memang bekerja di Jakarta, tepatnya di seputaran Thamrin menjemput kami di stasiun. Kemudian kami naik taksi menuju daerah belakang Plaza Sarinah Thamrin dan sarapan. Setelah sarapan, Mas Budi dan Raka mengajakku ke kantor kemenpora. Mas Budi dan Raka sudah tidak asing dengan kompleks kantor ini, karena sudah sering mengikuti berbagai macam lomba yang diadakan kemenpora dan datang kesana. Ini pertama kali untukku.

Segera kami naik bus trans jakarta dari halte Sarinah Thamrin dan turun di halte FX Plaza, kemudian naik taksi sampai di kantor kemenpora.

Seharian disana, Mas Budi mengenalkanku pada beberapa orang penting di kemenpora. Salah satunya adalah Bapak Mirhan Tabrani, beliau adalah Kepala Bidang Deputi Pengembangan Sumber Daya Pemuda dan Hubungan Internasional. Mas Budi tahu sekali aku ingin ke Korea, jadi mengenalkanku pada Pak Mirhan. Pada Pak Mirhan aku menanyakan kegiatan-kegiatan kemenpora ke luar negeri. Ternyata Kemenpora  mempunyai program tahunan Pertukaran Pemuda, termasuk ke Korea. Sayangnya, aku terlambat. Peserta yang lolos untuk tahun 2010 sudah diumumkan. Hmm, belum rezekiku. Insya Allah ada jalan yang lain.
Mas Budi kemudian juga mengajakku melihat-lihat kantor kemenpora dan mengajakku bersilaturahim dengan bapak-bapak pegawai disana. Makan bakso di depan kantor juga…

Ooo… ini ya kantornya Pak Menteri. Begini ini kantornya Pak Menteri..
Baru pertama kali masuk kantornya orang penting.. hehehe
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Jam pulang kantor, sudah bisa dipastikan jalanan Jakarta macet.
Kami bergegas pulang, menuju kantor om-ku. Karena aku akan menginap di rumah om di Bogor untuk 2 malam ke depan.

Sebelum pulang, tentu tidak lupa berfoto di depan kantor kemenpora. Kenang-kenangan kalau aku sudah pernah kesana. Hehe

Di Kantor Kemenpora

Wisma Menpora

Ooo.. Ini kantornya pak menteri

With Raka

Pesona Pantai Selatan

Pantai Balekambang, Malang Selatan
5 Juli 2012

Setelah sekian lama tak melihat pantai, akhirnya bisa mencium aroma khas pantai lagi. Seharusnya tujuan awal adalah pantai balekambang. entah kenapa begitu sampai di pintu masuk area wisatanya, si tukang parkir ilegal mengatakan bahwa pengunjung belum boleh masuk sebelum jam 12 siang. padahal saat itu waktu baru menunjukkan jam 9 pagi. yang benar saja, sudah  jauh-jauh datang dari Malang, menyengaja datang pagi supaya tidak terlalu panas dan bisa main sepuasnya di pantai, malah belum boleh masuk.

Alhasil, tujuan pun berubah.. pinggiran pantai di dekat area wisata balekambang. hmm…bagus juga
Bersih, sepi.. tidak banyak orang. bisa main sepuasnya..

Indahnya pantai-pantai Indonesia…
Love beach so much…

Pantai Selatan…
Apa yang pertama kali muncul di pikiran kita saat orang lain menyebut pantai selatan?
Ombaknya yang besar… betul..
Dan satu lagi.. mitos Ratu Pantai Selatan, atau kalau orang Jawa biasa menyebut Nyi Roro Kidul..
Keberadaan Nyi Roro Kidul ini yang kemudian disangkutpautkan dengan beberapa pengunjung pantai yang tenggelam saat berenang di wilayah pantai selatan..

Saat sedang duduk2 dengan adikku di pinggiran pantai, ada seorang bapak berpakaian seragam kepolisian beberapa lama memandang ke arah laut. Setelah itu beliau datang menghampiriku dan adikku. Kemudian beliau berpesan “Mbak, jangan berenang disini ya. Di bawah sini ada ‘masjid’ besar”, sambil beliau menunjuk ke arah air tak jauh dari tempatku duduk.

Beberapa lama aku terdiam mencoba memproses pesan bapak polisi itu. Masjid??? Ooo, mungkin yang dimaksud bapak itu adalah istana Nyi Roro Kidul. hehe…
Wallahua’lam..
Allah memang menciptakan makhluk-makhluk yang tidak bisa kita lihat. Kita wajib percaya bahwa jin memang ada. Tapi mereka punya dimensi dunia mereka sendiri.

Diambil sisi positifnya saja, karena ombak di pantai selatan cukup besar jadi sebaiknya tidak berenang terlalu jauh ke tengah pantai. Bukan kemudian disangkutpautkan dengan makhluk lain yang ada disana. Banyak wisatawan yang tenggelam disana, mungkin karena tidak mengindahkan rambu-rambu berupa bendera merah yang tertancap kokoh di tiap pinggir pantai, tidak mengindahkan pesan orang-orang lain di tempat itu. Bukan tenggelam karena ditarik Nyi Roro Kidul. Termasuk mitos tidak boleh memakai pakaian warna hijau saat datang ke pantai selatan, karena Nyi Roro Kidul menyukai warna hijau.

Bukan.. bukan itu..
Yang harus kita pahami adalah dimanapun kita berada kita harus berhati-hati, kita harus menjaga sikap. Agar makhluk-makhluk lain di sekitar kita tidak merasa terganggu dengan kehadiran kita. Makhluk lain ini bukan hanya yang tidak terlihat ya, bisa juga hewan ataupun tumbuhan. Misalkan tidak berteriak-teriak sembarangan atau mengucapkan kata-kata kotor, tidak buang air sembarangan, tidak membuang sembarangan, tidak sembarangan mengambil benda-benda yang ada di suatu tempat. Kalau mau dianalogikan, seperti saat kita bertamu ke rumah orang lain.

Bumi Allah ini begitu luas.. ribuan makhluk ada disana dan Allah sudah menggariskan kehidupannya masing-masing..

Di daerah Malang selatan masih banyak pantai yang bagus. Semoga lain kali bisa menikmati ciptaan Allah yang lain..
Pantai Kondang Merak, Pantai Sendang Biru, Pulau Sempu, dan pantai-pantai lainnya..