14 Hari Belajar Gotong Royong di Seoul Korsel

Pengalaman ke Seoul pertama kali

Perjalanan ke Seoul sudah dua kali saya jalani dimana  perjalanan pertama terjadi pada tanggal 8-10 November 1989 yang lalu,  sebelum  ke Tokyo Jepang saya menyempatkan mengunjungi teman yang kuliah Yonsei University dan sekaligus mencicipi tinggal bersama dengan penduduk lokal.

Tujuan utama waktu itu adalah mengikuti seminar “partisipasi swasta disektor air minum” di Macao dimana yang mengundang adalah Perusahaan Air Minum Macao yang sudah melakukan kerjasama dengan salah satu investor air minum Perancis yang ternama dan terbesar disana, dasar penulis yang hobi jalan-jalan, setelah selesai seminar  saya lakukan re-route perjalanan pulangnya, Macao-Hongkong-Taipeh-Seoul- Tokyo-Bangkok-Jakarta.

Pengalaman pertama ke Seoul cukup menarik dimulai waktu saya mencari teman saya ,  saya sempat potret2 di Kampus Yonsei yang sedang ramai pada demo mahasiswanya,  tiba2 teman saya datang dan nyeletuk “ati2 lu potret disini kemarin baru aja orang disangka intel digebukin mahasiswa” duile deg-degan juga jadinya. Makan siang saya coba kantin mahasiswa dan saya makan nasi sama “sop ikan” aduh mah top markotop rasaya, itu sop terdiri dari campuran ikan dan tulang2nya yang gede dengan bumbu rempah yang aduhai, bikin langsung berkeringat maklum waktu itu sudah mulai musim dingin.

Malamnya jalan-jalan ke Seoul Tower sambil lihat2 Seoul  diwaktu malam dari ketinggian, pulangnya makan cumi bakar yang di-”geprek”  tipis yang dijual pedagang sekitar situ, paginya makan “bubur ayam gingseng” yang disuguhkan nyonya rumah karena hari itu juga saya harus mancal pesawat ke Tokyo, waduh maknyus dan sedap makan bubur ayam ginseng sambil diselingi “kimci” (semacam acar sayuran pedas), dan sekalian saya sampaikan hampir setiap rumah disana pasti sedia kimci dalam gentong besar yang ditaruh diluar rumah sambil difermentasikan, disamping gantungan cabe kering didapurnya yang membuat pemandangan yang berbeda dengan dapur di tempat kita, “kamsa hamida ajumna” (trima kasih bu) sudah memberi kesempatan nginep dan makan gratis pula.

Perjalanan kedua ke Seoul.

Perjalanan kedua penulis dari tanggal 12 – 21 Oktober 1997 dalam rangka mengikuti pelatihan pemberdayaan masyarakat di “Semaul Undong Training Center” (SUCTI= semaul undong=gerakan hidup baru) Seoul, kami terdiri dari wakil2 dari Depdagri, Depkeu, Bappenas, dan DepPU yang disponsori oleh JBIC (dulunya OECF).

Pertama datang di TC kami disuruh pilih baju seragam drill coklat (Celana panjang+baju lengan panjang) untuk kegiatan kuliah dan ke lapangan sedangkan untuk olahraga pagi kami dapat seragam baju olahraga plus sepatunya. Untung bulan Oktober cukup dingin udaranya sehingga 10 hari nggak ganti baju rasanya gak bau he he he.

Pagi hari menjelang subuh2 kami dibangunkan oleh bunyi “gong” yang banter suaranya, gunanya membangunkan kami semua untuk kumpul dilapangan olahraga, “taiso” bersama sampai berpeluh, sebelumnya ada ritual janji; “kami berjanji akan berpikiran benar, berbicara benar, dan bertindak dengan benar” selesai olahraga terus dilanjutkan lari keliling kampus, puas keliling kampus sambil menggeh-menggeh ngantri makan pagi. Waduh ini acara  yang dinanti-nanti menunya bervariasi ada nasi, kentang goreng, ikan goreng (kebanyakan, mereka tahu kita ada pantangan), bermacam-macam kimci, rumput laut kering, sop ikan, aneka minuman panas dan dingin ( kaleng), dan air putih. baru kita mandi dan jam 9 acara kelas dimulai.

Gerakan hidup baru di Korsel.

Hari pertama kita diberi materi sejarah “semaul undong” oleh Direktur SUCTI;  Mr. Park Byung Won yang menceriterakan sejarah berdirinya semaul undong: Semangat ini dimulai karena sejarah “pahit” dijajah Jepang 36 tahun rakyat Korea sangat menderita, setelah PD II selesai 1945 Korea dibagi dua menjadi Korsel yang berpihak ke Amerika Serikat dan Korut yang berpaham komunis sampai sekarang. Rakyat Korsel hidup dalam kemiskinan, ada kemalasaan dll hal negatif lainnya, sehingga pada 22 April 1970, Presiden Park Cung Hie mengusulkan adanya “gerakan hidu baru” ini ang intinya adalah penanggulangan kemiskinan. Program pertama yang dilakukan Pemerintah berawal pada musim dingin tahun 1970 dimana petani tidak banyak melakukan kegiatan, di 33.000 desa masing-masing diberi bantuan335 zak semen.

Setelah musim dingin usai,  dilakukanlah evaluasi terhadap bantuan tersebut dan hasilnya diperoleh; semen rusak disebagian besar desa yang mendapat bantuan tersebut. Kesimpulan yang didapat adalah; penduduk desa tidak mempunyai pemimpin dan tidak ada konsensus/kesepakatan  bersama diantara mereka, ada egoisme di sebagian kepala keluarga (KK). Tetapi ada pula desa yang menggunakan semen bagi manfaat seluruh desa, untuk membuat jembatan artinya ada yang berhasil membuat konsensus kesepakatan bersama, ada yang berperan jadi peminpin/pelopor untuk menjadikan bantuan semen menjadikan manfaat bersama bagi seluruh penduduk desa.

Dari 33.000 desa yang berhasil “memanfaatkan bantuan semen” secara baik dan bermanfaat sebanyak 16.600 desa , sehingga kepada desa tersebut diberikan insentif ditingkatkan bantuannya menjadi 500 zak semen serta besi 1 ton untuk setiap desa. Pembangunan selanjutnya dilaksanakan atas musyawarah bersama membangun jalan yang lebar, MCK, dapur, dinding dan pagar rumah bagi manfaat bersama seluruh warga desa.

Filosofi dari bantuan tersebut diibaratkan bagaikan “pompa tangan” dimana dengan pancingan air yang sedikit kita akan mendapatkan air yang banyak berkat usaha kita untuk memompanya. Anggaran pemerintah terbatas, masyarakat keinginannya banyak untuk itu perlu digabung keduanya, sehingga masyarakat akan sadar untuk memberikan dukungan bagi pembangunan yang difasilitasi oleh pemerintah, diharapkan masyarakat akan mencari masalahnya sendiri dan memperbaiki sendiri.

Sudah banyak negara asing yang belajar “prinsip semaul undong” misalnya dari Mongolia, Vietnam, Thailand dan Cina. Sejak tahun 1980 pemerintah  melakukan “pembinaan mental” bagi rakyatnya dengan prinsip; Rajin, Mandiri dan Gotong Royong. Intinya adalah apabila semua rakyat Korsel melakukan hal ini, hidupnya akan sejahtera, desa menjadi makmur, Perusahaan dimana dia bekerja akan maju, dan terus menuju kemakmuran negara, demikian juga kejahatan akan berkurang. Gerakan ini bergaung keseluruh Korea Selatan, lingkungan menjadi bersih yang akan mendorong sektor lain semakin maju, produk pertanian dan industri semakin meningkat dan ekspor bertambah sehingga ekonomi Korsel semakin maju. Diawal tahun 70an pendapat rata2 perkapita rakyat Korsel hanya US$ 70, dan pada tahun 97 sudah melesat meningkat jauh  mencapai US$ 17.000an.

Semaul Undong memiliki dana abadi sebesar 60 milyar won dan masing-masing daerah memiliki Training Center nilai asset TC di Seoul sendiri sekarang berkisar antara 200 milyar won dan total asset yang dimiliki Semaul Undong nilainya cukup banyak mencapai ratrusan milyar won.

Pada tahun 1972, dimulailah dibangun “semaul undong training center” utuk melatih tenaga penggerak didesa, diharapkan setelah lulus mereka mempunyai motivasi untuk maju dan siap bekerja keras membangun desanya. Tahun 1974-76 dilakukan pelatihan secara lebih intensif bagi; para kepala desa, camat, bupati, gubernur sampai ke menteri-menteri, hasilnya sangat menakjubkan pada tahun 1977 semua desa di Korea menjadi bersih ligkungannya, rumah menjadi lebih bagus dan teratur, serta hasil pertanian dan peternakanpun  lebih baik.

Tahun 1981 mulai kebangkitan industri di Korea Selatan sehingga semaul undong  perannya bergesar kesektor swasta, bukan lagi pemerintah yang menjadi aktor utamanya. Tahun 1986 Korsel mejadi tuan rumah Asian Games, tahun 1988 kembali dipercaya dunia menjadi tuan rumah Olympiade, dan sampai sekarang semangat harus “rajin. mandiri dan gotong royong” masih tetap menjadi semangat rakyat Korsel dan sudah menjadi idelogi nasional.

Berikutnya Mr. Kim Soo Hak, President Semaul Undong Korsel mengajak kami lebih mendalami lagi “gerakan hidup baru” ini; prinsipdasarnya gerakan ini dimulai dari desa di Korsel yang berjumlah 80.000 dimana masing-masing dfesa rata-rata berpenduduk antara 50-100 KK, di awalnya semaul undong  diikuti oleh 70 % petani dan 30 % penduduk kota lalu kemudian berkembang menjadi 20 % petani dan 80% penduduk kota.

Tujuan utama gerakan ini adalah menjadikan desa yang lebih baik dan penduduknya lebih makmur dan rajin (bangkit dari kemalasan), mereka ditantang untuk hidup lebih bersih, dengan filosofinya yang utama adalah;

  • Rajin
  • Mandiri
  • Gotong Royong/sukarela
  • Jujur
  • Sadar akan kuwajiban masing-masing individu

Yang semua akan bermuara satu yaitu menjadi lebih makmur, dan “korupsi” akan semakin berkurang. Dulunya kondisi masyarakat desa di Korsel, para lelakinya suka mabok2an, berjudi, malas, lalu bagaimana merubah perilaku negatif ini menjadi orang yang lebih baik dan jujur untuk  bersama-sama membangun negara dan bangsa.

Gerakan ini bukan hanya “slogan dan kata2″ tapi tindakan yang nyata dengan tindakan nyata; mencintai desa sendiri,  aktif berpartisipasi membangun desa, menjadi pribadi yang kuat/sehat dengan tujuan untuk memakmuran keluarga, selanjutnya berdampak pada desa dan terus selanjutnya kepada negara dan bangsa.

Cinta dan bangga dengan produk bangsa sendiri, hal saya buktikan langsung melihat lalu lintas dijalan hampir  semua mobil yang berlalu lalang adalah produk dalam negeri. Semaul undong training center telah meluluskan 3.000.000 orang atau sekitar 8 % penduduk Korsel, sebelum orang ditunjuk menjadi pemimpin.pejabat dari tingkat kades sampai presiden harus lulus mengikuti pelatihan di TC ini. Harus pula diingat bahwa TC ini mempunyai advisor yang terdiri dari para profesor dari hampir seluruh Universitas di Korsel maupun orang-orang terpilih lainnya.

Orang yang kaya dianjurkan menjadi “sukarelawan” dengan mengalokasikan 5% waktunya untuk membantu yang lain, dihimbau untuk mengurangi egoisme pribadi dan bersedia untuk melakukan gotong royong, misalnya gerakan tanam pohon yang pasti hasilnya akan mencegah banjir dan kegiatan bermanfaat  lainnya.

Besoknya kami mendapat pencerahan dari Mr. Lee Manee Dirjen Pajak Depdagri Korsel, beliau menuturkan telah 11 tahun menjadi Direktur Semaul Undong, dan telah mendalami benar arti dan makna “demokrasi” baik dari pengalaman belajar diluar begeri maupun mengalaminya sendiri di Korea.

Salah satu petuah beliau yang sampai kini masih teringat terus adalah: “Jika pegawai negeri serius bekerja untuk kemakmuran rakyat semata pasti berhasil, tapi jika sebaliknya kemakmuran tidak akan terjadi”.

Juga ditambahkan, PNS harus kerja keras untuk membuat rakyat senang, bukan untuk kesenangan sendiri, bila rakyat senang maka kita akan ikut senang.

Beliau menggambarkan bahwa pada era tahun 50an Korea dilanda korupsi besar-besaran, kemiskinan kebodohan dan hal-hal negatif lainnya terjadi disana.

Pembangunan Lima Tahun Tahap I (Pelita I; 1962-1967) di Korea dimulai dengan semangat kebersamaan, dimana tentara Korsel belajar ilmu pemerintahan di USA yang selanjutnya menjadi dasar “dwifungsi ABRK”, sehingga pada Pelita Iidimulailah pembangunan yang berbasis industri.

Sejarah “cement project” yang memberikan semen gratis pada penduduk desa merupakan pengalaman yang menarik untuk dikaji dan dikaji kembali. Intinya Penduduk desa jangan didikte tapi dibebaskan untuk merumuskan keinginan mereka sendiri, setelah mereka mempelajari  modul2 proyek (20 modul) yang dibagikan.

Pemimpin dalam hal ini adalah presiden turun tangan melakukan “sidak” berkunjung ke desa-desa, melakukan tanya jawab  sembari melihat apa yang dikerjakan penduduk desa, makan bersama penduduk desa dan hal ini sangat menyenangkan hari penduduk desa.

Pada hari berikutnya kami menerima kunjungan Mrs. Lee Myong Hee mantan Pimpinan Wanita Semaul Undong, yang telah banyak membantu  pekerjaan  amal; misalnya mengumpulkan dan mendistribusikan baju layak pakai, membantu jada-janda tentara, membantu dapur umum   dan juga menghimpun para orang kaya untuk mendermakan sebagian rejekinya, dengan prinsip “orang kaya” harus didepan dalam kegiatan amal dengan tujuan untuk membantu sesama.

Dalam setiap kesempatan dihadapan kumpulan ibu-ibu selalu mulai dengan cerita filosofi;  ayam, anjing dan babi, “ayam tugasnya berkokok untuk membangunkan orang tidur, anjing selalu menggonggong untuk menjaga rumah majikan dari pencuri, sedangkan babi diibaratkan hewan yang kerjanya cuma makan dan makan”, dalam  ibarat kehidupan nyata kita tinggal memilih untuk jadi ayam, anjing atau babi.

Selanjutnya Mr. Park Jae Myung menceriterakan pengalamannya selama 15 tahun  menjadi pimpinan kelomppok petani semaul undong tingkat desa.  Desa dimana dia tinggal merupakan desa miskin tidak ada lahan persawahan, tidak ada air dan tidak ada akses jalan yang memadai untuk keluar desa. Penduduk desa hidup dari menanam sejenis ubi-ubian, penghasilan tambahan dengan menebang kayu utnuk membiayai anaknya sekolah.

Pada tahun 1975 program utama yang disepakati dan  dikerjakan secara gotong royong adalah memasang pipa untuk mengalirkan air sejauh 160 m, tetapi 40 m diantaranya harus membuat terowongan menembus bukit yang tingginya sekitar 20m.  Dengan mengerahkan penduduk setiap hari 8 orang  akhirnya setelah 2 tahun program ini berhasil.

Program selanjutnya adalah membangun jalan sepanjang 4.000 m untuk membuka isolasi desa, namun penduduk desa tetangga keberatan tanahnya dilalui (karena akan memotong kuburan desa milik mereka yang dianggap keramat).  Akhirnya dicari akal dengan membuat mabok pimpinan desa tetangga dan pada kondisi mabok mereka menyetujui sekaligus pembebasan lahan sebesar 25.000 m2. Namun pada saat dimulainya pembangunan jalan penduduk desa tetangga masih meminta bantuan untuk mengangkut kotoran manusia untuk dijadikan pupuk.

Sejak dimulai pembangunan jalan 18 Februari 1973 setelah 4 tahun 8 bulan selesailah jalan desa tersebut sepanjang 12.000m, dimana pada saat pembangunannya mengerahkan 300 orang per harinya untuk bekerja secara gotong royong, sampai dikira orang gila oleh penduduk desa tetangga.

Pada saat ini desa tersebut telah dapat mengembangkan pertanian ginseng kualitas nomer 1 dan penghasilan petani telah meningkat menjadi 37 juta won atau sekitar Rp. 120 juta per tahun. Dan desa tersebut sekarang terkenal dengan julukan “desa lebah” karena semangat gotong royongnya yang begitu tinggi.

Berikutnya Mrs. Chung Moon Ja juga mantan pimpinan wanita semaul undong,  dari Desa Oh Ryu Ri, Kecamatan Sung Su Myun, Kabupaten Im Sil Kun, Propinsi Jun Ra Puk Do,  sebagai ketua penggerak wanita disana dia sering dikeluhkan oleh para anggotanya bahwa untuk setiap kegiatan memerlukan pendanaan, namun desa tidak mempunyai uang sama sekali.  Mulailah menabung di Bank Desa dari hasil “jimpitan beras”  yang dikumpulkan ibu-ibu terkumpul dana dari 40 orang  sebesar 2.000 won yang dipakai sebagai modal dasar untuk membuat baju olah raga dan menjualnya dengan keuntungan sedikit.

Kemudian mereka membeli sapi yang masih kecil dengan ketekunan yang dimiliki ibu-ibu sekarang sapi yang mereka miliki telah ratusan jumlahnya. Setiap tanggal 1 dan 15 para ibu-ibu berkumpul untuk makan dan rembug bersama khususnya untuk membahas kegiatan selanjutnya.

Program selanjutnya mereka telah mampu membeli bukit seluas 5 Ha , dan ibu-ibu dengan sabar menunggu untuk  ketemu Bupati sampai 5 hari dan akhirnya dapat bantuan bibit pohon 200 buah. Langkah berikutnya adalah membuat ikat pinggang kimono yang hasilnya diekspor ke Jepang.

Puncaknya terjadi ditahun 1974 dimana ibu-ibu disana berhasil membangun jembatan seharga 10.000.000 won  sehingga mendapat hadiah “bintang pembangunan serta uang sebesar 1.000.000 won, dan jembatan in terkenal dengan nama “Jembatan Keinginan Wanita”.

Dengan keberhasilan kepemimpinannya dia menjadi Camat pertama di Korsel yang dilantik pada tanggal 23 Juni 1993 dengan rasa was-was dan takut untuk pertama kalinya, mengingat beban tugas yang akan dipikulnya. Hal yang menarik di kantor kecamatan adalah seluruh 13 orang stafnya semua wanita, dan setelah 2 tahun masa kerja diakui bahwa hasil kerjanya sama dengan laki-laki.

Penulispun sempat mengunjungi beberapa desa di Korsel yang salah satunya adalah Desa Yongman  (cultural village) disana sempat ketemu dan ngobrol dengan Mr. Lee Kang Myun, Desa yang berpenduduk 102 KK telah sukses memiliki lahan pertanian seluas 64.760 m2 yang diolah secara modern tanah pertaniannya, sehingga mempunyai gudang pengering, gudang penyimpanan hasil panen, area parkir, peralatan modern lainnya.

Disela-sela kegiatan pelatihan penulis sempat melakukan perjalan ke beberapa kota maupun jalan-jalan sekitar Seoul sendiri, yang menarik dan perlu dikunjungi adalah “Nam Daemoon Market” semacam Pasar Tanah Abangnya disana, segala macam barang tersedia, sampaii jaket perang korea (terkenal di Indo sekitar tahun 70an), bermacam-macam ginseng dari yang murah sampai yang muahal banget ada. (bpur).

http://edukasi.kompasiana.com/2010/02/04/14-hari-belajar-gotong-royong-di-seoul-korsel…

One thought on “14 Hari Belajar Gotong Royong di Seoul Korsel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s