Pengalaman Korea Merancang Kota Ramah Perempuan

Salah satu mata kuliah yang sampaikan kepada peserta workshop Gender equality yang dilaksanakan di KIGEPE (Korea Institute Gender Equality Promotion and Education) antara tanggal 2 – 7 Mei 2010, adalah Pengembangan Kota Seoul yang ramah terhadap perempuan.

Untuk menciptakan kota yang ramah terhadap perempuan maka dilaksanakan 5 (lima) kegiatan utama yaitu Seoul yang nyaman, Seoul yang aman, Seoul yang peduli, Seoul yang aktif, dan Seoul yang penuh.Untuk mempersiapkan Seoul yang nyaman untuk perempuan dilakukan langkah – langkah sebagai berikut :

1. Untuk mempersiapkan Seoul yang nyaman untuk perempuan dilakukan langkah – langkah sebagai berikut :

  • Pembangunan toilet yang sesuai untuk kebutuhan perempuan baik jumlahnya maupun fasilitasnya (biasanya perempuan membutuhklan waktu lebih lama, tempat lebih luas, dan fasilitas lebih, seperti gantungan tas, dll),
  • Parkir khusus perempuan termasuk kenyamanan menurunkan kereta bayi, sehingga diperlukan tempat yang lebih luas, karena perempuan umumnya kurang terampil mengemudi dan parkir.
  • Pencahayaan lapangan parkir yang cukup (cahaya lebih terang dibandingkan tempat parkir laki-laki ) untuk menghindari kejahatan,
  • Sudut jalan dibuat landai untuk memudahkan dalam menurunkan kereta bayi,
  • Taman yang ramah perempuan (tempat duduk ibu, anak, dan keluarga),
  • Dalam hal sarana transportasi misalnya dalam kereta api atau bis, perlu dibuatkan pegangan tangan yang berbeda ketinggiannya, pembuatan tangga berjalan untuk ke Subway,
  • Penyiapan fasilitas – fasilitas dalam pembangunan gedung harus di buat dengan berazaskan kenyamanan dan keamanan untuk perempuan seperti pembuatan lift yang tembus pandang, dll

2. Untuk menunjang kota Seoul yang aman bagi perempuan dilakukan langkah –langkah sebagai berikut:

  • Pembuatan menara pengawas,
  • Penerangan lampu jalan yang cukup,
  • Pencatatan nomor taxi yang dipakai oleh perempuan,
  • Penggunaan taxi panggil (pk 22.00 sampai pk 10.00)
  • Pelayanan cek kesehatan gratis bagi perempuan yang tidak mampu,
  • Perlindungan terhadap perempuan yang menjadi korban kekerasan,
  • Pusat pelayanan bagi perempuan

3. Untuk menunjang Seoul yang peduli terhadap perempuan maka pemerintah Seoul mengambil beberapa langkah antara lain:

  • Pendirian pusat perawatan anak yang dibiayai pemerintah,
  • Menyediakan pusat bermain bagi anak–anak untuk setiap kota,
  • Pusat bermain dan penitipan anak, hal ini untuk menghindari pegawai perempuan pulang pada siang hari untuk memberi makan kepada anaknya,
  • Pelatihan bagi calon suami Korea yang akan menikah dengan perempuan imigran,
  • Wanita imigran didukung untuk bisa bekerja di Korea.

4. Untuk menunjang Seoul yang aktif bagi perempuan, maka dilaksanakan beberapa kegiatan antara lain:

  • Melaksanakan pelatihan peningkatan keterampilan bagi perempuan agar dapat memasuki lapangan pekerjaan (Proyek perempuan yang bahagia),
  • Pelatihan untuk dapat bekerja di perusahaan penerbitan,
  • Seoul menyediakan program magang untuk perempuan selama enam bulan di perusahaan (yang didanai oleh pemerintah).

5. Untuk menciptakan Seoul yang penuh bagi perempuan dilaksanakan beberapa kegiatan antara lain:

  • Program budaya untuk perempuan (ibu rumah tangga) agar para perempuan sesekali bias menghadiri gelar budaya dengan harga terjangkau,
  • Program liburan,
  • Program sertifikasi bagi perempuan.

Dari Pengalaman tersebut, ternyata Indonesia juga sudah mengembangkan kota menuju layak anak.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Indonesia juga akan mengembangkan kota-kota ramah/layak perempuan ?

http://www.menkokesra.go.id/node/525…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s