Asiah binti Mazahim a.s.

Asiah adalah salah satu istri Rasulullah saw. yang paling mulia dan wanita terbaik penghuni surga. (Diriwayatkan bahwa Rasulullah dinikahkan oleh Allah dnegan Asiah sebagai suami-istri di akhirat). Sosok seorang wanita yang memiliki keimanan tinggi. Namanya terus disebut dan menebarkan keharuman sampai hari Kiamat, tidak akan pernah terputus atau hilang. Sosoknya telah menggoncangkan kekuasaan orang kafir dan memporak-porandakan perbuatan syirik dan penyembahan berhala. Hubungannya dengan Allah sangat dekat, pemahamannya tentang agama sangat luas, perkataannya sangat halus dan tutur katanya sangat sopan.

Pengakuan Islam Atas Kemuliaan Asiah binti Mazahim

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiah binti Mazahim istri Fir’aun.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ath-Thabrani, ath-Thahawi adh-Dhiya’ dengan sanad dari Ibnu Abbas.)

Dalam Al-Qur’an diceritakan sekilas kisah Asiah r.a.,

Pertama, ketika keluarga Fir’aun menemukan Musa a.s. yang dihanyutkan ibunya ke sungai di saat pasukan Fir’aun dan Hamman mencari anak laki-laki yang lahir dari bani Israil. Karena takut atas kehancuran kerajaan dan kekuasaannya, berdasarkan mimpi yang dia alami. Akan tetapi takdir Allah berkata lain, seakan-akan Allah berkata kepada Fir’aun, “Wahai raja yang kejam, yang memiliki banyak pasukan dan kekuasaan yang luas, ketahuilah Zat yang Maha Agung telah menentukan takdir-Nya. Dialah Zat yang Maha Kuasa tidak ada satu pun dapat menghalangi keputusan-Nya, tidak ada satu pun dapat mengubah takdir-Nya. Lihatlah, anak yang membuat kamu takut sehingga kezalimanmu menjadikan anak-anak kecil bani Israil terbunuh dan kaum ibu menangisi kepergian anak-anaknya. Ternyata anak itu ada di rumahmu. Tidur di tempat tidurmu. Ia tidak makan dan minum kecuali dari makanan dan minumanmu. Kamu yang telah mengasuh dan mendidiknya, tetapi ketika dewassa dia menghancurkan kekuasaanmu di dunia dan membinasakan kehidupanmu di akhirat. Semua itu karena kesombonganmu atas apa yang datang dari Zat yang Maha Besar (Allah) dan kedustaanmu atas apa yang diwahyukan kepadanya (Musa). Hendaklah kamu dan seluruh penghuni dunia mengetahui, sesungguhnya Tuhan langit dan bumilah yang dapat melakukan segala apa yang dikehendaki-Nya. Dialah Zat yang Maha Kuat dan Perkasa, yang memiliki kekuasaan yang besar dan tidak ada daya dan upaya kecuali dari-Nya.

Tangan mulia Asiah-lah yang melindungi dan mengasuh bayi itu. Bayi yang kelak menghancurkan kekuasaan dan kezaliman Fir’aun dan tentaranya, “Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” (Al-Qashash [28]:8). Kemudian Musa a.s. menjadi musuh yang mengancam kekuasaan mereka dan kesedihan yang menyelimuti hati mereka. Allah berfirman “Sesungguhnya Fir’aun dan Hamman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (Al-Qashash [28]: 8-9)

Bagaimana Musa a.s. berada di tengah-tengah mereka. Dia seorang anak yang masih kecil, tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri. Mari kita lihat apa yang ditakdirkan Allah kepadanya, “Dan berkatalah istri Fir’aun, ‘Dia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak.’ Sedang mereka tiada menyadari.'” (Al-Qashash [28]:9)

Kekuatan dan kezaliman Fir’aun dapat ditundukkan oleh istrinya, Asiah. Ia melindungi bayi itu dengan rasa cinta dan menyelimutinya dengan kasih sayang seorang ibu. Asiah tidak menghadapi Fir’aun dengan senjata atau kekuasaan tapi dengan kecintaan seorang ibu yang akhirnya meluluhkan kekejaman dan kekerasan hati Fir’aun. Sekarang Fir’aun bersama istrinya merawat dan mendidik Musa a.s. Perkataan Asiah, “Dia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu,” membuat Fir’aun tidak dapat melakukan apa-apa. Perkataan Asiah, “Janganlah kamu membunuhnya” menghalangi Fir’aun dan tentaranya untuk membunuh Musa.

Kedua, keimanan Asiah melalui dakwah Masyithah (tukang sisir keluarga Fir’aun). Kaum wanita mukminah dan salihah harus melatih diri dalam memperjuangkan agama Allah dan mengabdikan diri dalam dakwah Islam dengan berbagai metode. Jangan menganggap sepele untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sedikit pun. Mari kita melihat perjalanan seorang wanita mukminah dan salihah, yang memiliki semangat dan pengabdian tinggi dalam menyampaikan dakwah Islam, sehingga istri seorang penguasa kafir Fir’aun dapat menikmati hidayah dari Allah. Semoga Allah meridhai Masyithah.

Abu al-‘Aliyah bercerita, keimanan istri Fir’aun melalui salah seorang kepercayaan keluarga Fir’aun. Ketika itu ia sedang menyisiri anak wanita Fir’aun, tiba-tiba sisirnya jatuh dan spontan Masyithah mengucapkan, “Binasalah orang yang kufur kepada Allah.” Anak wanita Fir’aun berkata, “Apakah kamu memiliki Tuhan selain bapakku.” Masyithah menjawab, “Benar, Tuhanku, Tuhan bapakmu dan Tuhan segala sesautu adalah Allah.”

Anak itu langsung menampar dan memukul Masyithah, kemudian melaporkan kepada bapaknya. Fir’aun langsung memanggil Masyithah, “Benarkah kamu menyembah Tuhan selain aku?” Masyithah menjawab, “Benar, Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah, hanya kepada-Nya aku menyembah.” Fir’aun langsung menghukumnya. Kedua tangan dan kaki Masyithah diikat dengan ikatan yang sangat kencang. Dilemparkan kepadanya ular-ular, dan penyiksaan ini tidak dilakukan satu atau dua kali tapi berulang-ulang dan berhari-hari. Sampai Fir’aun mendatanginya dan berkata, “Apakah kamu sudah menyerah.” Masyithah tetap berkata ,”Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah.” Fir’aun dengan sangat murka berkata, “Sungguh aku akan menyembelih anakmu di hadapanmu, apabila kamu tidak mau mengubah keyakinanmu.” Masyithah menjawab dengan penuh keberaninan, “Lakukan apa yang kamu ingin lakukan.” Disembelihlah anak Masyithah di hadapannya. Ketika ruhnya keluar, sang anak memberikan kabar gembira kepada ibunya, “Wahai ibuku, berbahagialah sesungguhnya kamu telah mendapatkan pahala yang besar.” Masyithah sabar menghadapi kematian anaknya.

Keesokan harinya Fir’aun kembali mengajukan pertanyaan seperti yang dikatakan sebelumnya, dan Masyithah tetap dalam keimanannya. Maka anak keduanya disembelih di hadapan Masyithah. Ketika ruhnya keluar, terdengar suara, “Wahai ibuku, bersabarlah sesungguhnya kamu telah mendapat pahala yang sangat besar dari Allah.” Ketika itu Asiah istri Fir’aun selalu mendengar suara anak-anak Masyithah, dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Akhirnya Asiah beriman kepada Allah. Begitu pula ketika ruh Masyithah naik ke langit, Allah memperlihatkan kepada Asiah pahala, kedudukan dan kemuliaan Masyithah di surga, sampai akhirnya semakin bertambah keimanan dan keyakinannya kepada Allah. (Tafsir Ibnu Katsir [4/394]). Asiah menyaksikan dan mendengar pengadilan Masyithah. Dia melihat keteguhan imannya, bagaimana Masyithah tidak takut dalam berjuang di jalan Allah meskipun orang-orang mencelanya, bahkan siksaan yang mereka berikan menambah teguh keimanannya dan membuat dirinya berani menyatakan keesaan Allah di negara kafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a., Rasulullah saw. bercerita: Ketika melakukan Isra’ aku mencium bau yang harum sekali, aku bertanya, “Bau harum apa ini?” Jibril menjawab, “Bau harum tukang sisirnya anak Fir’aun (Masyithah) bersama anak-anak dan suaminya, di saat sisirnya jatuh dia spontan membaca, “Bismillah”.

Anak Fir’aun berkata, “Dengan nama bapakku.”

Masyithah menjawab, “Tidak, Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan bapakmu adalah Allah.”

“Apakah kamu memiliki Tuhan selain bapakku?” tanya anak Fir’aun.

“Benar, Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan bapakmu adalah Allah.”

Berita ini didengar Fir’aun, dipanggil Masyithah  dan ditanya, “Apakah kamu memiliki Tuhan selain aku?”

Masyithah menjawab, “Benar, Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah.”

Lalu Fir’aun memerintahkan untuk disiapkan tungku besar yang terbuat dari tembaga, lalu diisi dengan minyak dan dipanaskan. Setelah itu memerintahkan untuk melempar Masyithah ke dalam tungku yang diisi minyak yang telah dipanaskan. Ketika itu Masyithah berkata, “Aku memiliki satu permintaan kepadamu.”

Fir’aun bertanya, “Apa permintaanmu?”

“Kumpulkan tulangku dan tulang anak-anakku dalam satu tempat.”

“Baiklah kalau itu kemauanmu.”

Fir’aun langsung memerintahkan untuk melemparkan anak-anak Masyithah satu per satu. Sampai kepada anak yang masih bayi, saat itu sang anak berkata, “Wahai ibu, lompatlah dan jangan takut sesungguhnya kamu benar.”

Rasulullah bersabda, “Ada empat anak yang dapat berbicara ketika masih bayi: anak ini (anak Masyithah), saksi Yusuf a.s., anak kecil pada masa Juraij dan Isa binti Maryam a.s.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Abu Ya’la) Ini merupakan keimanan yang sangat kokoh, yang dapat menggoncangkan gunung dan tukang-tukang sihir Fir’aun yang akhirnya mereka beriman kepada Tuhan Musa dan Harun a.s. Allah mengisahkan perkataan mereka kepada Fir’aun, “Mereka (tukang sihir Fir’aun) berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan mengutamkan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami, maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).'” (Thahaa [20]:72-73)

Apa yang dilakukan Masyithah sama dengan apa yang dilakukan Asiah binti Mazahim r.a. ketika terjadi pertempuran dua pasukan; pasukan Musa a.s. dan pasukan Fir’aun. Istri Fir’aun bertanya siapa yang menang? salah satu dari pengawalnya berkata, “Musa dan Harun yang menang.” Langsung dengan penuh keberanian dia berkata, “Aku telah beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.” Perkataan Asiah didengar oleh suaminya. Dibawalah Asiah menghadap Fir’aun dan berkata, “Perlihatkan tungku besar (yang diisi minyak mendidih) kepadanya. Apabila ia tetap mengatakan perkataan itu maka lemparkan ke dalam tungku itu. Akan tetapi, apabila dia menarik perkataannya ketahuilah bahwa dia tetap menjadi istriku.”

Tungku itu disiapkan di hadapan Asiah. Dengan tenang ia menengadahkan mukanya ke atas dan matanya melihat ke langit, dan dia melihat rumahnya telah disiapkan di surga maka tanpa ragu lagi ia mengulangi perkataannya, “Aku telah beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.” Langsung ruh keluar dari tubuhnya dan yang dilempar ke dalam tungku adalah tubuh tanpa ruh (Tafsir Ibnu Katsir [3:394]). Mereka menyiksa tubuh Asiah sedangkan ruh Asiah tertawa bahagia melihat rumahnya di surga. Suara tawanya terdengar oleh Fir’aun dan pengikutnya. Fir’aun berkata, “Apakah kalian tidak heran dengan kegilaannya (Asiah)? Kita menyiksanya dan dia malah tertawa.”

Kesabaran, keimanan dan rasa takutnya kepada Allah merupakan contoh bagi setiap kaum wanita mukminah, salihah, ahli ibadah, mujahadah dan yang suka berpuasa. Allah berfirman, “Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman ketika ia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkan untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkan aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim.” (At-Tahrim [66]:11)

Permohonan Asiah yang pertama adalah agar dekat dengan Allah, sebelum dia memohon dibangunkan rumah di surga. Hal itu membuktikan kecintaannya yang sangat besar kepada Allah, karena tujuan utama memiliki rumah di surga adalah agar selalu dekat dengan Allah bukan semata-mata untuk bersenang-senang dengan segala kenikmatan di sana. Riwayat di atas menunjukkan bahwa Asiah beriman setelah peristiwa Masyithah. Ada pula pendapat yang lain dan ini merupakan pendapat yang lebih kuat, bahwa Asiah telah memeluk agama Samawi sebelum peristiwa ini dan sebelum datangnya Nabi Musa. Dia memohon agar diselamatkan dari Fir’aun dan perbuatannya, ini menunjukkan bahwa dia tidak terpengaruh dengan agama kafir yang ada di tengah-tengah kehidupannya. Dia melepaskan istana Fir’aun dan memohon agar mendapatkan rumah di surga. Dia melepaskan hubungan dengan Fir’aun dan memohon keselamatan dari Tuhannya. Dia melepaskan dari perbuatan Fir’aun karena doa yang dipanjatkannya, “Selamatkan akud ari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim.”

Doa yang dipanjatkan istri Fir’aun adalah contoh dari seorang yang menolak kenikmatan dunia dan lebih memilih kenikmatan akhirat. Dia adalah seorang ratu yang paling mulia di muka bumi ini pada saat itu. Dia berada di istana Fir’aun yang dipenuhi dengan segala macam kenikmatan yang diidam-idamkan setiap wanita. Akan tetapi, semua itu terkalahkan dengan ketinggian iman di hatinya. Segala kenikmatan yang ada di depannya bukan anugerah, tetapi musibah, cobaan dan malapetaka baginya. Sehingga dia memohon kepada Allah untuk terhindar dari itu semua dan terbebas dari kezaliman Fir’aun.

Istri Fir’aun adalah contoh wanita yang tidak silau dengan kenikmatan dunia karena dia melihat bahwa kenikmatan akhirat jauh lebih besar dari kenikmatan yang ada di sekelilingnya di istana Fir’aun. Bersamaan dengan Asiah disebutkan juga seorang wanita mukminan salihah yaitu Maryam binti Imran, ini menunjukkan kemuliaan yang ada dalam diri Maryam.

…Dr. Musthafa Murad, Best Women in Heaven…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s