Aku Jatuh Cinta

Saat pertama kali aku melakukannya, sekitar akhir tahun 2009. Tapi ternyata, apa yang aku lakukan itu membuatku kecanduan. Dan tidak berhenti sampai sekarang. Dulu ku pikir hanya akan ku lakukan dalam waktu beberapa bulan saja. Sekarang sudah hampir 3 tahun, dan aku masih tetap melakukannya.

Awalnya aku memang hanya ingin mengisi waktu luang soreku, sekaligus menambah uang jajan bulanan. Agar aku tidak perlu meminta uang jajan bulanan lagi pada orang tua. Selain itu, aku berpikir ingin berbagi sesuatu atas apa yang aku punya, apa yang sudah aku pelajari. Waktu luang akan bermanfaat, uang jajan bulanan aku dapat, dan insya Allah pahala pun berlipat. Ah, tidak ada salahnya aku mencoba. Aku memang suka anak-anak dan masih punya adik perempuan yang saat itu duduk di bangku kelas 5 SD. Aku sering membantunya mengerjakan tugas sekolah, ataupun membantunya belajar untuk ulangan harian.

Dari yang semula hanya ingin mengisi waktu luang, sekarang aku tersadar bahwa begitu banyak pelajaran yang bisa ku ambil darinya. Bersyukur Allah masih memberiku kesempatan untuk melakukannya sampai saat ini. Ya, sederhana memang, hanya mengajar bimbingan privat. Tapi sungguh, melakukannya tidak semudah sekedar memberitahukan sesuatu pada anak-anak. Aku yang memang suka sekali dengan matematika, paling sering mengajar matematika pada anak-anak SD. Aku memang bukan seseorang yang lulus dari jurusan keguruan atau pendidikan guru. Dan aku menemukan hal lain, bahwa mengajar tidak hanya sekedar mentransfer ilmu. Tapi juga membutuhkan andil komunikasi yang baik dan keterikatan emosi.

Aku lebih suka jika adik-adik yang ku datangi setiap sore dan belajar bersamaku menganggapku sebagai seorang kakak, bukan seorang guru seperti di sekolah. Dengan begitu mereka akan merasa lebih rileks saat belajar, mereka pun bisa leluasa menceritakan apapun kesulitan ataupun masalah-masalah yang dia alami di sekolah. Menurutku cara berinteraksi dengan anak-anak adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Jika selama ini aku sebagai seorang murid sekolah formal selalu merasa bahwa mengajar adalah komunikasi satu arah, tapi sekarang aku tahu bahwa mengajar akan lebih baik jika dilakukan dua arah. Ada keseimbangan antara si pengajar dan anak yang sedang belajar dalam berkomunikasi. Hal ini yang mungkin sulit dilakukan di sekolah-sekolah formal. Anak cenderung memiliki perasaan takut salah dan malu ketika akan menyampaikan pendapat atau menjawab soal-soal pelajaran. Karena mereka biasanya berpikir guru akan marah atau memberikan hukuman jika jawaban mereka salah.

Mengajar anak-anak tidak semudah mengajar pada siswa pada tataran sekolah menengah. Ketika mereka melakukan sebuah kesalahan, kita tidak bisa serta merta menyalahkan dengan kata-kata yang menghakimi. Hal itu akan sangat berdampak pada sisi psikologis mereka. Alangkah lebih baik jika kita dengan cara yang halus memberikan pengertian, dengan kata-kata yang baik dan mudah mereka pahami. Seusia mereka, biasanya akan lebih mudah memahami jika kita memberikan pengertian sehubungan dengan sebab akibat. Sesekali ‘hukuman’ memang diperlukan untuk memberikan efek jera, hanya jika kesalahan yang dilakukan adalah kesalahan besar dan sudah diberikan peringatan berulang kali tapi tetap dilakukan. Hanya sesekali, bukan untuk kemudian dijadikan kebiasaan selalu memberikan hukuman untuk setiap kesalahan.

Ketika berinteraksi dengan anak-anak, bukan anak-anak yang menyesuaikan dengan dunia kita. Tapi kitalah yang harus masuk ke dunia mereka. Berusaha memahami apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan. Dan dari situlah komunikasi yang baik dapat dimulai. Aku selalu menunggu saat-saat mereka bercerita padaku tentang kejadian-kejadian lucu di sekolah, kejadian-kejadian yang membuatnya jengkel atau marah, bercerita tentang teman-temannya, tentang guru-gurunya. Aku selalu menunggu ekspresi senang dan ceria mereka, ekspresi marah mereka yang sering membuatku tertawa. Saat-saat itulah kita bisa lebih memahami karakter seorang anak, kita bisa menanamkan nilai-nilai moral pada mereka.

 

Betapa menyenangkannya menghabiskan waktu bersama mereka…
Tertawa bersama mereka…
Setelah belajar bersama, aku yang melihat mereka lapar, segera mengajak mereka ke toko terdekat untuk sekedar membelikan mereka kue-kue kecil atau susu..lalu kami makan bersama sambil bercerita..
Kadang bakso atau mie ayam..

 

Selalu ada perasaan puas tersendiri ketika melihat mereka mengangguk tanda mengerti akan penjelasan yang ku berikan..
Selalu ada perasaan bahagia tersendiri ketika melihat mereka makan dengan lahap bersamaku…

Allah, terima kasih telah memberikan kesempatan yang tak ternilai ini padaku..
terima kasih telah mempercayaiku untuk berbagi dengan mereka..

Aku pun jatuh cinta padamu…
Adik-adikku sayang..
Si kembar yang menggemaskan, Zahwa dan Zahra..
Si rajin, Risa..
Si pendiam, Lita..
Si pemain sepak bola, Ilham..
Si pemain bulu tangkis, Alfan..
Si cerdas, Maya dan Melano
Si penyuka warna pink, Saskia..
Si hiperaktif, Cyril..
Si penyuka warna hijau, Aldin..
Si hobi makan, Ibnu..
Si hobi menggambar, Ditya..
Si cantik, Icha..
Geng heboh, Dea – Rotul – Anisa – Anggi – Intan..
Si pemalu, Ghina..
Si interaktif, Shafwan..

Betapa aku banyak belajar dari kalian…

Allah, lindungi selalu mereka…
Big hug and love from me…

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s