Ternyata Aku pun Bisa

Tepat 2 hari yang lalu, 20 Januari 2012, aku mendapatkan sebuah kabar baik. Sungguh sangat bersyukur atas segala nikmat yang Kau berikan padaku Ya Rabb…. tulisan pertamaku yang ku kirimkan untuk sebuah audisi penulisan buku antologi ternyata lolos seleksi dan akan ikut dibukukan. Mungkin ini bukan hal besar bagi orang lain, tapi tidak begitu aku memaknainya.

****

Saat itu sekitar pertengahan tahun 2010, aku ingin mengikuti sebuah acara seminar tentang beasiswa ke Jepang yang diadakan oleh sebuah organisasi. Aku segera menghubungi nomor yang digunakan sebagai contact person untuk mendaftarkan diri, nama yang tertera adalah Ida Fauziah. Seminar tersebut akan diadakan di sebuah universitas ternama di Surabaya. Ku kirimkan email dan sms pada Mbak Ida untuk menanyakan perihal kegiatan seminar tersebut. Mbak Ida dengan sabar membalas satu per satu sms dan email yang ku kirimkan. Menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan jelas, bahkan sampai urusan angkot apa yang harus ku naiki dari terminal bus sampai ke lokasi seminar. Terima kasih banyak ya Mbak Ida sudah sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan adiknya yang bawel ini… ^^ Di acara seminar itulah kami pertama kali bertemu.

Saat pertama kali bertemu Mbak Ida, 21 Juli 2010 di Surabaya.
Mbak Ida yang berdiri di tengah berbaju merah. Wah, kita kompak ya Mbak.
Walaupun nggak janjian, bajunya sama-sama merah..^^

Dari sekedar pembicaraan mengenai seminar, pembicaraan kami pun berlanjut. Mbak Ida tahu benar aku bercita-cita untuk pergi ke Korea (tapi beliau tidak tahu kalau aku juga punya mimpi dan harapan tentang menulis sesuatu ^^). Aku masih ingat pesan beliau, “Banyak orang sukses yang mengawali perjuangannya dengan cara yang tidak mudah”. Kalimat itu menjadi suntikan semangat tersendiri untukku saat-saat itu.

Tak berapa lama kemudian, beliau mengabarkan padaku bahwa beliau dan ketiga putri kecilnya akan pindah ke Malaysia untuk tinggal bersama suami. Suami beliau adalah seorang peneliti di sebuah universitas di Malaysia. Aku memang hanya sempat sekali bertemu dengan beliau, tapi bukan berarti silaturahim terhenti. Walaupun hanya sekedar mengucapkan salam atau menanyakan kabar melalui internet. Aah, tapi disitulah sebuah arti silaturahim.

Sampai sekitar 1 bulan lalu aku mengirimkan message pada beliau untuk bertanya tentang parenting dan homeschooling. Aku pun mengatakan pada beliau bahwa beberapa bulan lagi insya Allah aku akan menikah. Beliau senang sekali mendengarnya. Aku mengatakannya tanpa maksud apapun. Dan subhanallah, begitu penyayangnya Allah..bukankah tidak ada sebuah kebetulan di dunia ini melainkan Allah sudah mengaturnya??

Beberapa minggu setelah message terakhirku itu, Mbak Ida mengirimkan sebuah message yang berisi tentang audisi tulisan untuk ikut serta dibukukan dalam buku yang sedang ditulis Mbak Ida. Tema tulisannya adalah JODOH. Hmmm, sepertinya memang tepat dengan keadaanku saat ini. Jujur saja, aku tidak percaya diri. Merasa belum mampu menulis dengan baik. Sejak SD sampai SMA aku memang rutin menulis buku harian. Tapi hanya sebatas buku harian yang ku baca sendiri, tidak untuk dibaca orang lain. Sejak masuk kuliah pun aku sudah tidak pernah menulis buku harian. Apa bisa?? Mbak Ida memberi semangat untuk mencoba.

Akhirnya jadilah sebuah tulisan 6 halaman yang segera ku kirimkan pada Mbak Ida. Tulisan yang berisi tentang cerita bagaimana aku bertemu dengan calon suamiku. hehehe… Sedikit ada perasaan canggung saat menulis untuk dibaca orang lain. Tapi aku sudah mengantongi izin dari calon suamiku untuk menuliskannya dan ku kirim untuk audisi.

Lagi-lagi,, sebuah kebetulankah? Dulu sekali, aku pernah berangan-angan.. Nanti kalau aku sudah punya calon suami, aku ingin memberikannya hadiah kumpulan cerita sejak pertama aku bertemu dengannya sampai menikah. Aku ingin memberikan hadiah itu padanya di hari kami menikah. Hanya sekedar angan-angan. Karena saat itu aku belum punya calon suami dan tidak tahu kapan akan menikah. Hanya berangan-angan.

Alhamdulillah… karena tulisanku lolos seleksi untuk dibukukan, aku bisa memberikan buku yang didalamnya terselip cerita singkat pertemuan pertama kami hingga akan menikah pada suamiku nanti sebagai hadiah.

Allah,, betapa Engkau mendengar bahkan yang belum sempat terucap dari mulutku..

Big thanks to:
Mbak Ida, terima kasih atas kesempatan yang sudah diberikan padaku. Aku jadi punya hadiah buat suami nanti..^^ semoga lancar proses penerbitan bukunya. Seperti yang Mbak bilang, semoga jadi amal jariyah untuk kita semua. Aamiin..
Teman-teman dekat yang sudah berkenan meluangkan waktunya untuk membaca 6 halaman ceritaku, memberikan komentar dan masukan. Semoga aku kembali menemukan semangat untuk belajar menulis..^^
Last but not least, calon suamiku yang sudah bersedia cerita ini dituliskan dan dibaca banyak orang. Terima kasih untuk komentar dan masukannya. Terima kasih telah melengkapi cerita hidupku. Kalau Mas tidak datang, aku tidak bisa menuliskan cerita apapun. Dan kalau bukan Mas, mungkin ceritanya tidak sama. Semoga bisa menjadi berkah dan manfaat untuk banyak orang.

Semoga rahmat Allah selalu beserta kita semua..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s