Arsip

Combro… Combro…

Combro.. Combro…

Begitu setiap hari yang saya dengar sejak sekitar dua bulan yang lalu. Suara seorang bocah yang berjalan keliling kompleks perumahan saya untuk menjajakan combro. Di tengah teriknya matahari Palabuhanratu, kaki kecilnya terus melangkah sambil membawa sekeranjang berisi combro. Seakan tak peduli dengan lengan tangannya yang melegam, keringat yang membasahi topi dan pakaiannya.

“Cooommbrrooo… Cooommbroooo.. Bu, badhe Bu?”

Begitu ia berteriak sambil berjalan menghampiri setiap rumah yang pintunya terbuka..

Sejak kemunculannya di sekitar rumah dua bulan lalu, saya tak begitu peduli. Baru sekitar satu minggu yang lalu saya membeli combronya. Iba.. Ada perasaan iba ketika melihat bocah kecil itu berpanas-panas setiap hari menjual combro.

Setelah beberapa kali membeli combro barulah saya tahu siapa bocah kecil itu.Namanya Harisman. Biasa dipanggil Haris, dan saat ini masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Haris tinggal di desa Cibarengko (di balik bukit yang ada di samping komplek rumah saya). Dia adalah anak terakhir dari 7 bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai pengambil pasir di Sungai Cimandiri, ibunya adalah ibu rumah tangga. Sebagian kakaknya sudah menikah, ada yang tinggal di Palabuhanratu, ada yang merantau jauh ke Pulau Sulawesi. Dan ada juga kakaknya yang tak mampu menyelesaikan pendidikannya di SMP.

Setiap hari sepulang sekolah Haris berjualan combro. Si pemilik combro mengantarkan Haris dengan motor sampai ke perumahan tempat Haris berjualan. Dan untuk pulang, Haris naik angkot dengan membayar seribu rupiah. Begitu setiap hari rutinitasnya sepulang sekolah. Haris menjualkan combro milik orang lain dan mendapat upah sekedarnya tergantung dari hasil penjualan. Jika semua combro yang dijualnya habis, Haris mendapat upah lima belas ribu rupiah. Kemarin ia menjual gethuk (kue yang juga terbuat dari singkong), tak laku banyak.. Dan Haris hanya mendapat upah seribu lima ratus rupiah atas usahanya berjualan keliling kompleks di tengah terik matahari. Ada yang menggenang di mataku saat mendengar pengakuan polosnya.

Suatu ketika kutanyakan mengapa ia berjualan combro. Dia menjawab dengan polos, “Uangnya ditabung Teh. Saya malu kalo minta ke orangtua. Uangnya saya simpen. Kalo saya lagi butuh, saya pake. Buat bayar keperluan sekolah.”Saya bisa memahami jawaban dan maksud baiknya. Di kota kecil ini, di beberapa desa pelosok masih banyak keluarga-keluarga kurang mampu (begitu menurut pengamatan suami saya yang sudah lebih lama tinggal disini).

Beberapa minggu lalu saya juga melihat seorang bocah laki-laki kecil, mungkin seumuran kelas 5 SD. Tangan kanannya memegang karung dan pengait, mungkin dia adalah seorang bocah pemulung. Ia berdiri tertegun melihat sebuah poster yang dipasang di depan sebuah bank. Entah apa yang begitu menarik perhatiannya.

Tiba-tiba saja ada yang mengalir begitu saja dari mata saya. Tak mau berhenti. Suami saya menghentikan mobil tak jauh dari tempat bocah itu berdiri. Saya turun dan memberikan sedikit untuknya. Saat ku tanya dimana rumahnya, ia menjawab dengan bahasa Sunda yang saya tak tahu artinya. Ku tanyakan pada suami, yang dia ucapkan artinya ‘tidak punya’. Dia tidak punya rumah.

Saat berbalik arah, aku melihat poster yang menarik perhatian bocah kecil itu. Ternyata poster itu bergambar beberapa bocah yang tertawa lepas sambil berjalan menggunakan sepatu roda. Miris…

Saya dan suami, kami merencanakan untuk memberikan bimbingan belajar kepada Haris dan beberapa teman sekolahnya tiap satu minggu sekali di rumah kami. Berbekal pengalaman menjadi pembimbing privat anak-anak selama beberapa tahun di Malang, saya ingin memulainya lagi. Di tempat ini.. dimana banyak anak-anak perlu mendapatkan perhatian dan motivasi lebih. Insya Allah, bimbingan untuk Haris dan teman-teman sekolahnya akan kami mulai pekan ini. Kami juga berniat memberikan bantuan-bantuan lain untuk Haris dan teman-temannya.

Mulai sekarang, sebagian dari hasil penjualan Shabrina Handmade Crochet yang saya kelola akan saya sisihkan untuk membantu Haris dan teman-temannya. Saya sisihkan untuk membantu proses bimbingan belajar mereka.Kepada teman-teman saya yang sudah memesan dan membeli barang-barang rajutan buah tangan saya, saya ucapkan terima kasih. Insya Allah sebagiannya akan saya salurkan untuk anak-anak yang membutuhkan.

Ke depannya, saya juga berniat untuk memberikan pelatihan keterampilan merajut kepada teman-teman perempuan Haris. Supaya mereka juga bisa berkreativitas dan produktif. Insya Allah…

Kami menawarkan dan mengajak teman-teman yang memiliki rezeki berlebih dan ingin berbagi kepada anak-anak yang membutuhkan, untuk ikut bergabung dengan kami. Sedikit yang teman-teman sisihkan, insya Allah menjadi berkah dan sangat bermanfaat bagi anak-anak yang membutuhkan.

Di tengah semua keterbatasan yang mereka dan kita miliki, semoga kita tetap bisa mengukir pelangi harapan di wajah-wajah mereka… untuk berani bermimpi, untuk berani memiliki cita-cita, untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Insya Allah..

Mohon doa dari teman-teman semua semoga kami istiqamah dan yang kami usahakan benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak yang membutuhkan.

stock-illustration-9279436-happy-little-children-jumping-on-hill-underneath-a-rainbow

-Viki & Marsa-

Iklan

Aku Jatuh Cinta

Saat pertama kali aku melakukannya, sekitar akhir tahun 2009. Tapi ternyata, apa yang aku lakukan itu membuatku kecanduan. Dan tidak berhenti sampai sekarang. Dulu ku pikir hanya akan ku lakukan dalam waktu beberapa bulan saja. Sekarang sudah hampir 3 tahun, dan aku masih tetap melakukannya.

Awalnya aku memang hanya ingin mengisi waktu luang soreku, sekaligus menambah uang jajan bulanan. Agar aku tidak perlu meminta uang jajan bulanan lagi pada orang tua. Selain itu, aku berpikir ingin berbagi sesuatu atas apa yang aku punya, apa yang sudah aku pelajari. Waktu luang akan bermanfaat, uang jajan bulanan aku dapat, dan insya Allah pahala pun berlipat. Ah, tidak ada salahnya aku mencoba. Aku memang suka anak-anak dan masih punya adik perempuan yang saat itu duduk di bangku kelas 5 SD. Aku sering membantunya mengerjakan tugas sekolah, ataupun membantunya belajar untuk ulangan harian.

Dari yang semula hanya ingin mengisi waktu luang, sekarang aku tersadar bahwa begitu banyak pelajaran yang bisa ku ambil darinya. Bersyukur Allah masih memberiku kesempatan untuk melakukannya sampai saat ini. Ya, sederhana memang, hanya mengajar bimbingan privat. Tapi sungguh, melakukannya tidak semudah sekedar memberitahukan sesuatu pada anak-anak. Aku yang memang suka sekali dengan matematika, paling sering mengajar matematika pada anak-anak SD. Aku memang bukan seseorang yang lulus dari jurusan keguruan atau pendidikan guru. Dan aku menemukan hal lain, bahwa mengajar tidak hanya sekedar mentransfer ilmu. Tapi juga membutuhkan andil komunikasi yang baik dan keterikatan emosi.

Aku lebih suka jika adik-adik yang ku datangi setiap sore dan belajar bersamaku menganggapku sebagai seorang kakak, bukan seorang guru seperti di sekolah. Dengan begitu mereka akan merasa lebih rileks saat belajar, mereka pun bisa leluasa menceritakan apapun kesulitan ataupun masalah-masalah yang dia alami di sekolah. Menurutku cara berinteraksi dengan anak-anak adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Jika selama ini aku sebagai seorang murid sekolah formal selalu merasa bahwa mengajar adalah komunikasi satu arah, tapi sekarang aku tahu bahwa mengajar akan lebih baik jika dilakukan dua arah. Ada keseimbangan antara si pengajar dan anak yang sedang belajar dalam berkomunikasi. Hal ini yang mungkin sulit dilakukan di sekolah-sekolah formal. Anak cenderung memiliki perasaan takut salah dan malu ketika akan menyampaikan pendapat atau menjawab soal-soal pelajaran. Karena mereka biasanya berpikir guru akan marah atau memberikan hukuman jika jawaban mereka salah.

Mengajar anak-anak tidak semudah mengajar pada siswa pada tataran sekolah menengah. Ketika mereka melakukan sebuah kesalahan, kita tidak bisa serta merta menyalahkan dengan kata-kata yang menghakimi. Hal itu akan sangat berdampak pada sisi psikologis mereka. Alangkah lebih baik jika kita dengan cara yang halus memberikan pengertian, dengan kata-kata yang baik dan mudah mereka pahami. Seusia mereka, biasanya akan lebih mudah memahami jika kita memberikan pengertian sehubungan dengan sebab akibat. Sesekali ‘hukuman’ memang diperlukan untuk memberikan efek jera, hanya jika kesalahan yang dilakukan adalah kesalahan besar dan sudah diberikan peringatan berulang kali tapi tetap dilakukan. Hanya sesekali, bukan untuk kemudian dijadikan kebiasaan selalu memberikan hukuman untuk setiap kesalahan.

Ketika berinteraksi dengan anak-anak, bukan anak-anak yang menyesuaikan dengan dunia kita. Tapi kitalah yang harus masuk ke dunia mereka. Berusaha memahami apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan. Dan dari situlah komunikasi yang baik dapat dimulai. Aku selalu menunggu saat-saat mereka bercerita padaku tentang kejadian-kejadian lucu di sekolah, kejadian-kejadian yang membuatnya jengkel atau marah, bercerita tentang teman-temannya, tentang guru-gurunya. Aku selalu menunggu ekspresi senang dan ceria mereka, ekspresi marah mereka yang sering membuatku tertawa. Saat-saat itulah kita bisa lebih memahami karakter seorang anak, kita bisa menanamkan nilai-nilai moral pada mereka.

 

Betapa menyenangkannya menghabiskan waktu bersama mereka…
Tertawa bersama mereka…
Setelah belajar bersama, aku yang melihat mereka lapar, segera mengajak mereka ke toko terdekat untuk sekedar membelikan mereka kue-kue kecil atau susu..lalu kami makan bersama sambil bercerita..
Kadang bakso atau mie ayam..

 

Selalu ada perasaan puas tersendiri ketika melihat mereka mengangguk tanda mengerti akan penjelasan yang ku berikan..
Selalu ada perasaan bahagia tersendiri ketika melihat mereka makan dengan lahap bersamaku…

Allah, terima kasih telah memberikan kesempatan yang tak ternilai ini padaku..
terima kasih telah mempercayaiku untuk berbagi dengan mereka..

Aku pun jatuh cinta padamu…
Adik-adikku sayang..
Si kembar yang menggemaskan, Zahwa dan Zahra..
Si rajin, Risa..
Si pendiam, Lita..
Si pemain sepak bola, Ilham..
Si pemain bulu tangkis, Alfan..
Si cerdas, Maya dan Melano
Si penyuka warna pink, Saskia..
Si hiperaktif, Cyril..
Si penyuka warna hijau, Aldin..
Si hobi makan, Ibnu..
Si hobi menggambar, Ditya..
Si cantik, Icha..
Geng heboh, Dea – Rotul – Anisa – Anggi – Intan..
Si pemalu, Ghina..
Si interaktif, Shafwan..

Betapa aku banyak belajar dari kalian…

Allah, lindungi selalu mereka…
Big hug and love from me…