Arsip

Untukmu Saudariku…

Selamat Datang…

Saudariku yang tekun mendirikan shalat dan berpuasa dengan penuh kepatuhan dan kekhusyukan.

Saudariku yang memakai hijab demi kesopanan, kewibawaan, dan kesucian diri.

Saudariku yang selalu belajar dan menelaah dengan penuh kesadaran dan ketulusan niat.

Saudariku yang selalu menepati janji, bisa dipercaya, dan jujur.

Saudariku yang selalu bersabar, mawas diri, dan bertobat dengan penuh penyesalan.

Saudariku yang selalu berdzikir, bersyukur dan berdoa.

Saudariku yang selalu menjadikan Asiyah, Maryam dan Khadijah sebagai teladan.

Saudariku yang tengah mendidik para calon ksatria dan mencetak orang-orang yang terhormat.

Saudariku yang selalu memelihara nilai-nilai adiluhung dan melestarikan suri tauladan.

Saudariku yang selalu takut dan menjauhi apa-apa yang diharamkan oleh Allah….

 

YA …!

Ya… untuk senyuman indahmu yang menghembuskan cinta dan mengalirkan kasih sayang kepada sesama.

Ya… untuk ucapan-ucapan baikmu yang membangun persahabatan sejati dan menjauhkan rasa dengki.

Ya… untuk dermamu yang membahagiakan si miskin, menyenangkan si fakir dan mengenyangkan si lapar.

Ya… untuk selalu bersanding dengan Al-Qur’an seraya membaca, menghayati, dan mengamalkannya sambil bertobat dan beristighfar.

Ya… untuk senantiasa berdzikir, beristighfar, memanjatkan doa, dan memperbaiki taubat.

Ya… untuk bekerja keras mendidik anak-anakmu dengan agama, mengajarkan sunah-sunah Nabi kepada mereka dan mengarahkan mereka kepada hal-hal yang bermanfaat.

Ya… untuk rasa malu dan hijabmu yang diperintahkan Allah. Itulah satu-satunya cara untuk memelihara kesucian dan kehormatanmu.

Ya… untuk hanya bergaul dengan wanita-wanita baik yang selalu takut pada Allah, mencintai agama, dan menjunjung tinggi nilai-nilainya.

Ya… untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahim, menghormati tetangga, dan menyantuni anak yatim.

Ya… untuk membaca dan menelaah buku-buku yang bermutu dan bermanfaat.

 

TIDAK…!

Tidak… untuk menyia-nyiakan usiamu dengan hal-hal yang tak berguna: misalnya suka membalas dendam dan berdebat tentang perkara-perkara yang tiada bermanfaat.

Tidak… untuk mendewakan harta dan berupaya menimbunnya dengan mengorbankan kesehatan, kebahagiaan, tidur nyenyak dan istirahatmu.

Tidak… untuk mencari-cari kesalahan orang lain, menggunjingnya, dan melupakan kesalahan diri sendiri.

Tidak… untuk tenggelam dalam kenikmatan hawa nafsu dan menuruti segala yang diinginkannya.

Tidak… untuk menghabiskan waktu dengan para pengangguran dan bermain-main yang tiada mendatangkan faidah.

Tidak… untuk mengabaikan kebersihan badan, kerapian rumah, wewangian dan disiplin.

Tidak… untuk minuman-minuman yang diharamkan, rokok, syisyah dan segala sesuatu yang mengandung penyakit.

Tidak… untuk selalu mengingat musibah yang telah berlalu, bencana yang telah lewat, dan kesalahan yang telah terjadi.

Tidak… untuk melupakan akhirat dan bekal untuknya, serta mengabaikan keberadaannya..

Tidak… untuk menghambur-hamburkan harta dalam perkara-perkara yang diharamkan, hura-hura dan kemaksiatan.

 

MAWAR

Mawar Pertama : Ingatlah, Tuhanmu akan mengampuni orang yang minta ampunan, menerima taubat orang yang menyesali dosa-dosanya, dan menyambut setiap hamba yang kembali ke jalan-Nya.

Mawar Kedua : Sayangilah orang-orang yang lemah, niscaya engkau akan bahagia; bantulah orang-orang yang membutuhkan, engkau akan mendapat kepuasan; janganlah engkau tebarkan kebencian, agar engkau selalu selamat.

Mawar Ketiga : Optimislah, karena sesungguhnya Allah selalu bersamamu, para malaikat senantiasa memohonkan ampunan untukmu dan surga telah menantimu.

Mawar Keempat : Hapuslah air matamu dengan berbaik sangka kepada Allah. Usirlah segala duka dengan mengingat semua nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepadamu.

Mawar Kelima : Jangan pernah menyangka bahwa di dunia ini ada orang yang bisa mendapat kebahagiaan sempurna, karena tak seorang pun bisa memperoleh semua yang diinginkannya.

Mawar Keenam : Jadilah seperti pohon kurma; tinggi cita-citanya, kebal dari penyakit, dan bila dilempar dengan batu, ia membalas dengan buah kurmanya.

Mawar Ketujuh : Pernahkah engkau mendengar bahwa kesedihan dapat mengembalikan sesuatu yang telah berlalu dan duka lara dapat memperbaiki sebuah kesalahan? Bila tidak, untuk apa engkau bersedih?

Mawar Kedelapan : Janganlah mencemaskan datangnya ujian dan bencana, tapi songsonglah kenyamanan, kedamaian, dan kesehatan yang pasti datang atas izin Allah.

Mawar Kesembilan : Padamkan api kedengkian di dadamu dengan memaafkan semua yang pernah berbuat salah kepadamu.

Mawar Kesepuluh : Mandi, wudhu, wewangian, siwak, dan kerapian adalah obat mujarab untuk mengatasi segala kerisauan dan kesempitan.

 

BUNGA

Bunga Pertama : Jadilah seperti lebah; hanya hinggap di atas bunga-bunga yang semerbak harum dan di atas ranting-ranting yang segar saja.

Bunga Kedua : Engkau tak punya waktu untuk mengorek aib dan kesalahan orang lain.

Bunga Ketiga : Bila Allah sudah bersamamu, siapa lagi yang harus engkau takuti? Tapi, bila Allah menjadi musuhmu, kepada siapa lagi engkau akan berharap?

Bunga Keempat : Api kedengkian akan menggerogoti tubuh, dan terlalu mudah cemburu adalah laksana api yang membara.

Bunga Kelima : Bila engkau tak bersiap-siap sejak hari ini, maka hari esok tidak akan menjadi milikmu.

Bunga Keenam : Jauhilah tempat hura-hura dan kemaksiatan dengan keteguhan.

Bunga Ketujuh : Jadikanlah dirimu lebih elok dari taman bunga dengan akhlak.

Bunga Kedelapan : Biasakanlah berbuat baik, niscaya engkau akan menjadi manusia yang paling bahagia.

Bunga Kesembilan : Serahkan urusan makhluk itu kepada Penciptanya, orang yang mendengki kepada ajalnya, dan setiap orang yang memusuhimu pada kealpaannya.

Bunga Kesepuluh : Kenikmatan yang haram akan membuahkan penyesalan, kesengsaraan, dan azab yang sangat pedih.

 

– dari bagian pembuka buku MENJADI WANITA PALING BAHAGIA, Dr. ‘Aidh al-Qarni-

 

Mari senantiasa bermuhasabah saudariku…dan jadilah diri sendiri yang paling bahagia,,karena bahagiamu ada dalam dirimu..bukan orang lain..karena bahagiamu terselip dalam setiap proses yang kau lewati untuk menjadi diri yang selalu lebih baik..

Mari tersenyum untuk diri sendiri dan orang lain…tunjukkan betapa bahagianya kita menjadi seorang muslimah…

Semoga Allah selalu meridhai dan memberikan petunjuk pada setiap langkah kita…^^ aamiin….

…Aku turut berbahagia untukmu, Sayang…

4 Mei 2011,,sekitar pukul 15.30 WIB,,setelah yakin telah menyelesaikan semua amanah untuk hari itu,,segera saja bersiap untuk menuju tempat dimana kami berjanji untuk bertemu..

Hujan turun dengan derasnya,, sama seperti hari-hari kemarin.. tapi aku tahu,,deras hujan itu tak akan mengurangi kebahagiaan hatinya, tak akan mengurangi sunggingan senyum di wajahnya.. pun tak akan mengurangi degup jantungnya..

Ya,,sore ini aku akan mengantarkannya pulang ke kampung halaman, untuk mempersiapkan segala sesuatu yang ia perlukan esok hari.. Di sepanjang perjalanan,,seperti perjalanan-perjalanan berdua kami sebelumnya,, selalu saja ada hal-hal yang menarik untuk dibicarakan… dengan tema yang juga tak jauh berbeda dengan sebelumnya.. dari setiap kalimat yang ia ucapkan,,aku bisa menangkap, merasakan,,seolah ia berkata dengan lantangnya “Subhanallah,,Alhamdulillah,,akhirnya aku telah menemukannya”..

Aku tahu dia sangat lelah hari itu, karena harinya begitu penuh dengan aktivitas..tapi tak mengurangi pancaran binar matanya..

Sayang,,aku pun bahagia melihatmu…setelah semua ikhtiar dan doa yang kau panjatkan tulus padaNya..dan akhirnya kau temukan jawabannya..

Setelah perjalanan yang cukup gerah dan melelahkan,, sekitar pukul 21.30,, alhamdulillah,, tiba di rumah yang baru sekali ini aku kunjungi..disambut senyum ramah ibunya..ku raih dan ku cium tangannya..mengucapkan salam dan perkenalan…

Sama…aku pun menangkap binar bahagia itu di mata ibunya..

Malam itu,,kami berdua berbaring di ranjang kecil,,menatap langit-langit kamarnya,,tidak ada perbincangan lagi..dan memutuskan untuk segera mengistirahatkan tubuh ini…

5 Mei 2011,,kokok ayam terdengar nyaring sekali,,suara ayahnya mengumandangkan adzan merdu sekali,,ku sentuh dan guncangkan lengannya,,membangunkannya untuk segera mendirikan shalat Subuh…

setelahnya,,kami disibukkan dengan persiapan untuk acara siang hari ini…pagi itu ia masih sempat mengatakan, “Aku kok ndak deg-deg-an ya Yang”…ia sudah biasa memanggilku dengan sebutan “Yang” kependekan dari “Sayang”..selalu begitu,,dimanapun, dan di depan siapapun..

dengan enteng ku jawab,, “Sekarang masih belum jam 10 Say”,,sambil menyeringai mencubit pinggangnya…menggodanya…

usai dengan segala persiapan bingkisan makanan, kue,,suguhan di meja makan, segera kami berbenah diri,,waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB.. Aku mengetuk pintu kamarnya dan segera masuk untuk berganti pakaian..ku lihat ia berdiri di depan cermin lemarinya..aku tahu ia baru saja menyempurnakan Dhuha-nya..ia putar MP3 Murottal dari Handphonenya…dan kami mulai melantunkan hafalan-hafalan kami lirih,,sambil terus berbenah…mungkin degup jantungnya sudah jauh lebih kencang…

ku siapkan kamera yang sudah ku bawa memang untuk mendokumentasikan hari bahagianya itu..sebelum kemudian ia meminta tolong padaku untuk membetulkan tali pita di bagian belakang pakaiannya..bertanya jilbab mana yang sesuai dengan warna bajunya…dan membantunya mengenakan dan menghias jilbab yang ia pilih…

kemudian kami berdua duduk di atas tikar di sudut kamarnya,,masih terdengar suara lantunan Murottal dan suara lirih kami menghafalnya,,sambil menunggu kedatangan tamu yang sangat ia tunggu…tiba-tiba ia memandangku dan mengungkapkan perasaannya saat itu,, di ujung kalimatnya,,ia ucapkan “Bismillah” sambil kemudian menggenggam tanganku…aku mengangguk dan tersenyum…

tak lama setelah itu,,suara mobil terdengar mendekat ke arah pekarangan rumahnya..kami sontak berdiri dan mendekati jendela untuk memastikan siapa yang datang…tiba-tiba ia menggenggam tanganku erat,, ku rasakan tangannya sedikit dingin dan bergetar,,dan ia berkata, “Yang,,,aku deg-deg-an sekarang”…dan yang aku ucapkan hanya “Bismillah say”…dan kemudian kami keluar kamar untuk menyambut tamu tersebut..tak lupa ku raih kameraku…

Sekitar 25 orang tamu segera memasuki ruang tamu dan duduk di kursi dan karpet yang sudah disiapkan…di tengahnya beberapa jenis kue telah dihidangkan…

Aku duduk di sampingnya,,dan segera asyik dengan kameraku…aku turut mendengarkan semua yang dibicarakan oleh kedua belah pihak…

Sampai akhirnya saat penyerahan cincin,,aku mendekatinya dan sudah siap dengan kameraku.. dibukalah kotak cincin itu,,sepasang cincin sederhana terletak di bagian tengah…pertama, ayahnya menyematkan cincin yang berwarna perak di jari manis tangan kanan laki-laki itu,,kemudian ibu laki-laki itu menyematkan cincin emas di jari manis tangan kanannya…segera saja ku arahkan kameraku,,mengambil fokus pada jari-jarinya…dan tanganku pun bergetar….Sayang,,,bisa ku bayangkan bagaimana perasaanmu saat itu…

**Barakallah Sayangku,,,semoga Allah menghimpunkan kalian dalam keberkahan dan kebahagiaan…bersabar dan bersiaplah menyambut hari itu,,saat amanah suci dan besar Allah amanahkan untukmu…hari dimana engkau akan menjadi halal untuknya,,dan ia menjadi halal untukmu…

Sayang,,sungguh aku turut berbahagia untukmu,,,setelah semua yang kau lewati…

Semoga Allah selalu memberikan keberkahan pada kalian..dan menguatkanmu untuk memulai bahtera barumu sebagai seorang istri dan ibu kelak…

terselip doa tulus dalam hatiku,,semoga tak lama lagi juga akan tersemat cincin sederhana di jari manis tangan kananku…

Love you, Sayang…

Jangan Tinggalkan Sebutir Nasi-pun Di Piringmu!

Sebuah pesan yg dikirimkan saudariku di sana..sedikit, tapi cukup untuk kita merefleksi diri..sederhana, tapi penuh makna..

“Nadya,, ayo makan donk..”, bujuk mami yang sedari tadi tak henti-hentinya menyodorkan sesendok nasi plus lauk kepada Nadya, keponakanku.

Peristiwa ini mengingatkanku ketika aku kecil dulu. Tak jauh berbeda dengan keponakanku kini, aku pun waktu kecil sulit sekali jika disuruh makan. Bahkan tak jarang aku menyisakan makanan di piringku. Walhasil, sisa makananku akan dihabiskan oleh mami. Mungkin mami berpikir; ”Alhamdulillah , anakku mau makan.. Biarlah sisa makananya aku yang habiskan..”

Tak sedikit orangtua yang mengalami hal ini; anak yang sulit makan bahkan menyisakan makanan. Lantas apa yang harus diperbuat para orangtua terutama para ibu untuk mengatasi masalah ini?

Aku akan sedikit berbagi bagaimana aku yang sewaktu kecil suka menyisakan makanan hingga akhirnya membiasakan diri untuk tidak menyisakan sedikit makanan pun bahkan sebutir nasi-pun.

Mari kita cam-kan ungkapan berikut ini: Seseorang akan melakukan suatu hal dengan sepenuh hati jika ia tahu tujuan dari apa yang ia lakukan. Begitupun dengan anak kecil. Seorang anak kecil akan melakukan sesuatu dengan sepenuh hati jika ia mengerti betul apa yang dia lakukan, dia tahu kenapa ia harus melakukan hal itu, termasuk menghabiskan makanan hingga tak sebutir nasi-pun tersisa di piring.

Pada mulanya memang aku sulit jika disuruh makan, namun lambat laun aku belajar untuk menghabiskan makanan yang telah tresedia di piring. Tentu hal ini bukan langsung terjadi begitu saja, melainkan denga rangkaian proses yang cukup panjang. Yuk simak rangkaian proses itu..

Mami sering membujukku untuk makan bahkan aku sering diceritakan bagaimana dulu sewaktu mami kecil, begitu susah untuk dapat makan sepiring nasi. Harus menumbuk padi sendiri sebelum berangkat ke sekolah, memasaknya baru kemudian bisa makan. Maklum, sewaktu kecil mami tinggal di pedesaan. Bahkan untuk makan sepiring nasi dengan sebutir telur ceplok pun jarang sekali, lebih sering telur ceplok satu dibagi-bagi dengan saudara yang lain. Mami sering menceritakan hal itu ketika aku benar-benar susah untuk makan. Tak jarang pula beliau menceritakan hal itu menjelang tidur. Dan di akhir ceritanya mami berkata: “Kamu harus bersyukur mau makan tinggal nyuap aja kok susah? Gak perlu numbuk beras dulu, lauk juga udah ada.”

Sewaktu berlibur ke daerah pedesaan yang masih terlihat sawah di kiri kanan jalan, mami pun kembali menceritakan bagaimana susahnya petani menanam padi, mulai dari membajak sawah, menanam bibit, hingga panen tiba dan tak jarang terjadi gagal panen. Namun berapa upah yang didapat oleh para petani? Sangat kecil, mungkin hanya sekadar untuk bisa makan sehari-hari sudah cukup. “Kamu gak perlu nanem padi dulu baru bisa makan kan?”

Pernah waktu itu aku melihat berita di televisi dimana seorang nenek harus memunguti beras yang berjatuhan dari truk pengangkut beras. Disebutkan dalam tayangan itu bahwa si nenek melakukan hal tersebut untuk bisa makan nasi. Sungguh, kejadian itu sangat menyentuh hati kecilku saat itu. Ditambah lagi ketika membaca Koran, aku melihat gambar seorang anak laki-laki yang juga memunguti beras yang berjatuhan dari truk pengangkut beras. Semakin ke sini, semakin banyak aku jumpai berita dari televisi maupun Koran yang memberitakan tentang begitu susahnya orang-orang untuk sekadar makan sesuap nasi. Sedangkan aku disini, dengan mudahnya mendapatkan sepiring nasi beserta lauk, namun sungguh kurang bersyukurnya aku yang sering menyisakan makananku di piring.

Hingga akhirnya, aku bersilaturahim ke rumah tante yang memiliki usaha catering. Aku bermain ke dapur. Pada sore hari kulihat seorang ibu yang sedang memasukkan makanan sisa catering yang tidak habis dimakan ke dalam kantung plastic. Ada tanda tanya besar dalam benakku dan hal itu langsung aku tanyakan pada tante. Tante pun menjawab:”Ibu itu emang udah biasa kayak gitu. Ngambilin makanan sisa catering untuk ngasih makan anak-anaknya yang banyak. Tante juga suka ngasih makan yang utuh ke ibu itu tapi tetep aja dia ngambilin makanan yang sisa..”

Dari sekian rangkaian proses itulah, aku menyadari bahwa betapa kurang bersyukurnya aku jika tidak menhabiskan makananku. Banyak orang-orang apalagi saat ini yang untuk mendapatkan sesuap nasi saja susahnya minta ampun, sementara aku dengan mudahnya mendapatkan itu semua, hanya tinggal menyuap saja. Sungguh kurang bersyukurnya aku jika masih menyisakan sebutir nasi di piringku. Ya, dari situlah aku akhirnya bertekad untuk menghabiskan apapun yang ada dalam piring hingga tak tersisa sebutir nasi-pun.

Saudaraku, sadarkah kita bahwa nasi yang kita makan adalah hasil jerih payah petani?

Akankah kita tetap tak menghabiskan nasi di piring jika kita tahu bahwa banyak orang yang ternyata begitu sulit untuk mendapatkan sesuap nasi?

Ada yang berkata: “kalo udah kenyang banget juga gak bisa dipaksain. Daripada dzalim sama diri sendiri dan malah muntah. Ga pa pa lah gak dihabiskan..”

Saudaraku, yakinlah! Itu hanyalah tipuan setan dalam pikiran kita untuk tidak menghabiskan makanan kita.

Apa yang kita lakukan berdasarkan pikiran kita. Jika pikiran kita mengatakan hal seperti di atas maka dapat dipastikan bahwa akan lebih banyak nasi yang kita sisakan. Namun, cobalah ubah pikiran kita: sebanyak apapun yang ada di piring saya karena saya yang mengambilnya, maka harus saya habiskan. Insya ALLAH walaupun sudah terasa kenyang, kita masih sanggup untuk menghabiskannya. Tapi ingat juga bahwa dalam makan pun tak boleh berlebihan. Maksudnya disini adalah jangan mengambil porsi yang besar jika memang kita tak sanggup untuk menghabiskannya.

Atau kalau memang makanan itu bukan kita yang mengambilnya sendiri, dan porsinya terlalu besar untuk kita, maka pikirkanlah cara agar nasi tidak terbuang, misalnya makan berdua dengan teman, dll. Intinya: jangan pernah tinggalkan sebutir nasi-pun dalam piringmu!

***Teringat kata-kata dosenku ketika perkuliahan beberapa minggu lalu..orang Jepang, setiap kali akan makan, mereka akan berdoa, memohon keberkahan atas apa yang mereka makan, dan tak lupa mereka juga berdoa untuk para petani yang sudah menanam padi dan merawatnya hingga saat panen tiba..mereka juga tidak akan menyisakan satu butir nasi pun di mangkuknya, karena mereka berusaha untuk menghargai para petani yang sudah bersusah payah, tanpa petani tidak akan tersedia nasi di hadapan mereka..

Jadi, apapun yg ada di hadapan kita sudah seharusnya kita syukuri, apa pun itu,,dan jangan pernah menyia-nyiakan suatu hal,,hal kecil sekalipun. Dan berhati-hatilah ketika kelak kita menjadi seorang ibu..betapa perlunya menanamkan sebuah pemahaman kepada sang anak. Agar anak terbiasa untuk bersyukur dengan apa yg dimilikinya..Segala puji bagi-Mu Ya Rabb…

Cerita Pagi Ini (1)

Pagi ini tak jauh berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya..namun ada yang sedikit menarik perhatianku untuk  sejenak menyimak apa yang ditayangkan…sebuah acara reality show di salah satu stasiun tv swasta..walaupun tidak dari awal, tapi paling tidak bisa ku tangkap tema yang akan dibincangkan..Mengaji dan Shalat..cukup berbeda dengan tema-tema sebelumnya..

ku dengarkan saja sambil mulai melangkah mengambil sapu…kali ini di sebuah stasiun kereta api..

si pembawa acara mulai mencari mangsa di tengah kerumunan orang untuk kemudian diajak berbincang mengenai tema tersebut..tak berapa lama ia mencari, ia menemukan mangsanya..sebuah keluarga kecil yang hendak bepergian..seorang ibu, dengan 1 gadis manis dan 2 bocah lelaki…langsung saja ia bertanya kepada gadis manis itu..

“Dek, bisa ngaji?” langsung saja gadis itu menjawab, “Bisa.” si pembawa acara bertanya lagi, “Di sekolah suka nggak sama pelajaran agama?” dia menjawab lagi, “Suka.” Pembawa acara itu lalu mencoba menyuruhnya membacakan salah satu surat yang dia hafal..Dengan cekatan gadis itu mulai membacakan surat pembuka juz 30 yang berjumlah 40 ayat..Surat An-Naba’..baru membacakannya beberapa ayat, si adik menyela dan seolah tak ingin kalah dengan sang kakak..dengan lantangnya ia berkata, “Aku juga ngaji.” Si pembawa acara mengalihkan perhatian sejenak kepada bocah laki-laki itu. “Ngaji dimana dek?” Dia menjawab, “Ngaji sebelah.” (????) Ternyata maksudnya dia belajar mengaji di tetangga sebelah rumah yang kebetulan seorang ustadz…^^ Setelah itu giliran sang ibu yang diberikan pertanyaan..”Ibu hafal gak surat yang tadi?”..ketika ditanya seperti itu, sang ibu tak menjawab hanya tersipu dan bergegas berjalan menjauh sambil menggandeng tangan anaknya..pembawa acara itu masih terus mengejar dan berkata, “Ibu gak malu ya, masa’ anaknya hafal, ibu gak hafal.” Dan sekali lagi ibu itu hanya tersipu kemudian berlalu…

Pembawa acara itu kembali mencari mangsa baru..kali ini sebuah keluarga kecil yang duduk di tempat tunggu pemberangkatan..seorang bapak, ibu, bocah laki-laki dan seorang gadis. Langsung saja dia bertanya kepada bocah laki-laki itu. “Diajarin ngaji gak dek di rumah?” Dengan polosnya dia menjawab, “Nggak.” (entah itu jawaban polos yang jujur atau dia bercanda..^^). “Diajarin shalat gak dek di rumah?” Lagi-lagi jawaban yang sama, “Nggak.” Pembawa acara itu langsung saja bertanya kepada ibunya yang sedang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri, “Loh, ibu ini gimana sih..anaknya kok gak diajarin ngaji..kok gak diajarin shalat?” Sang ibu pun tak mau dipersalahkan atas jawaban polos anaknya, “Udah kok mas..dia udah bisa.” Dan tanpa diduga bocah kecil itu menyahut, “Bapak itu gak bisa ngaji.” Si pembawa acara seperti tak percaya..kamera langsung menyorot wajah sang bapak yang tadinya duduk tenang, raut wajahnya mulai berubah kemerahan dan sedikit tersipu..si anak lalu mengulang kalimat yang baru saja diucapnya, “Iya, bapak itu gak bisa ngaji.” Pembawa acara itu, sambil bercanda kemudian berkata, “Wah Pak, ayo belajar ngaji, masa’ kalah sama anaknya.”

Si pembawa acara kemudian berjalan lagi tak jauh dari tempat terakhir..seorang bapak, ibu, dan anak perempuannya yang kira-kira masih di playgroup..lucu…dengan pipi tembem kemerahan, khas raut anak-anak..dia sepertinya terganggu dengan kedatangan pembawa acara itu..matanya terus terpaku pada sosoknya, dan kemudian memeluk erat tangan sang ibu..tak sepatah kata pun terucap ketika ia ditanya..hanya menggeleng dan menganggukkan kepala saja..dengan raut wajah yang tak berubah..seperti ketakutan..^^ Jadilah sang ibu yang menjawab pertanyaan..”Dia kalo di rumah cerewet..Dia sudah ngaji sampe iqro’ 3.” Karena bocah berpipi tembem itu tetap tak mau berbicara, si pembawa acara segera mengakhiri percakapannya dan berlalu untuk mencari mangsa berikutnya..

Lalu pelajaran apa yang bisa kita ambil dari percakapan sederhana yang diselingi canda itu?? atau justru kita memandangnya hanya sebagai bahan untuk ditertawakan???

to be continued..^^