Arsip

Mencoba Kristik

Pada dasarnya saya memang menyukai kristik sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Tapi mengurungkan niat untuk berbisnis kristik dan memilih rajutan karena setahu saya bahan-bahan kristik agak sulit ditemukan di toko-toko jahit konvensional.

Dan ternyata..dengan semakin menjamurnya online shop, produk kristik pun dijual melalui online shop. Lebih praktis malah, karena dijual dalam bentuk paket yang terdiri dari benang, kain strimin dan polanya.

Inilah 3 buah yang sudah saya selesaikan. ^^

Bisa dibeli yah. Hehe

DSCF0794

Cantik ya..

Masih ada 3 paket lagi bergambar gadis Korea imut ini.

Tunggu kelanjutannya ya

Shavi’s Jasa Pengetikan dan Penerjemahan Online

Bismillah..
Usaha baru, semoga berkah.

Shavi’s menyediakan jasa pengetikan untuk bahasa Korea, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Pengetikan dari file berbentuk PDF, foto atau gambar ke bentuk Ms. Word.
Tarif pengetikan: Rp 10,- per kata
Kami menjamin keakuratan pengetikan dan kerahasiaan naskah Anda.
Kami juga menyediakan jasa penerjemahan dengan pasangan bahasa:
a. Bahasa Korea <> Bahasa Indonesia
b. Bahasa Inggris <> Bahasa Indonesia
Kami menerima penerjemahan dokumen, maupun naskah-naskah lain. Tarif penerjemahannya akan disesuaikan dengan jenis naskah.
Kami menetapkan tarif per kata baik untuk pengetikan dan penerjemahan. Sehingga biaya pengetikan dan penerjemahan dapat dihitung dengan tepat. Kami menyediakan jasa berbasis daring (online). Naskah-naskah yang akan diketik maupun diterjemahkan, bisa dikirimkan kepada kami melalui surel.
Anda membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan kedua pekerjaan tersebut? Pastikan segera menghubungi kami melalui surel [marsashabrina23 et gmail dot com]

 

Aku Masih Mengingatnya…

hari ini tepat satu tahun yang lalu…Rabu, 16 Februari 2011
satu hari setelah aku pulang dari Singapura…
pagi itu aku yang sedang memantapkan hati untuk mencoba membuka diri pada seseorang yang tidak ku kenal..
terselip perasaan khawatir akan apa yang terjadi setelahnya..
aku sungguh tidak mengenal orang ini, bertemu dengannya pun tidak pernah…
melihatnya pun hanya dari foto yang dia simpan di akun fesbuknya..
asing.. sangat asing..
aku tidak pernah berkenalan dengan orang asing untuk hal penting semacam pernikahan..
ini untuk pertama kalinya.. rasanya aneh..
antara percaya dan tidak percaya pada laki-laki itu..
bagaimana bisa dia memilih untuk memberikannya padaku sementara dia sama sekali tidak mengenalku..
aku hanya berucap bismillah..
insya Allah laki-laki ini orang yang baik (berdasarkan sedikit deskripsi yang ku terima dari temannya), dia sudah dewasa, tentu tidak akan main-main untuk urusan pernikahan.
hanya itu yang menjadi pertimbanganku untuk mencoba menerimanya.. karena aku benar-benar tidak mengenalnya..
saat itu pun aku berpikir, kalaupun setelah berkenalan dengannya aku merasa tidak cocok, toh aku bisa menghentikan proses ini.
baiklah, ku coba meyakinkan diri untuk menerima..
aku yang tidak pernah membuat CV untuk kepetingan seperti ini, tentu saja bingung..
segera ku kontak temanku yang sudah pernah membuat CV untuk pernikahan, untuk meminjam dan menjiplak format CVnya..
pagi, siang dan sore… aku masih belum bisa menuliskan sesuatu pun… hanya ku baca CV temanku itu berulang-ulang..
mencoba memperkirakan apa yang akan ku tulis nanti..
tentang kriteria calon suami?? aku sendiri bingung, karena aku tidak pernah menetapkan kriteria macam-macam. cukuplah laki-laki itu orang yang paham ilmu agama dan nanti bisa membimbingku.
bahkan di CV temanku, sampai disebutkan kriteria fisik yang diinginkan. sedang aku sama sekali tidak memiliki kriteria apapun untuk itu…
semakin bingung,, masa iya aku hanya menuliskan satu kalimat di bagian itu..
aaahh, membuat CV saja aku tidak bisa. padahal malamnya harus ku berikan.. bagaimana ini???
sampai ba’da isya pun aku belum menuliskan apapun… bagaimana ini??? padahal sudah ditunggu…benar-benar kalut..
kalau temannya itu tidak terus mengingatkanku, pastilah jemariku ini tak bersegera menuliskannya..
menuliskannya dalam beberapa halaman saja, aku butuh waktu lama.. payah sekali.. begini ternyata rasanya..
setelah selesai menuliskannya, ku baca sekali lagi dari baris teratas sampai terbawah. ku rasa tak ada yang perlu ku tambahkan lagi. cukup…
cukup dan selesai pun bukan berarti aku segera menghubungi temannya dan mengirimkan padanya..
sampai temannya itu mengatakan padaku, dia sangat mengantuk, kapan bisa dia terima?
Akhirnya ku kirimkan juga, dan ku terima CV laki-laki itu..
Email itu pun tak segera ku buka, tak segera ku donwload file yang berisi CVnya.. tangan dan kakiku ku rasakan mulai dingin. degup jantungku lebih cepat dari sebelumnya…
wahai laki-laki yang jauh disana, tak taukah dirimu bagaimana rasanya aku malam itu?? gemetar….
Setelah ku download file itu, mulailah ku baca satu per satu…..
pelan-pelan sekali ku baca…(bagaimana ini, dia menuliskan semuanya dengan jelas dan rinci, tidak seperti CVku… pasti dia menertawakan CVku, atau bahkan marah dan mengira aku tidak sungguh-sungguh membuatnya…
bukan karena aku tidak sungguh-sungguh membuatnya, tapi karena aku tidak tahu apa yang harus ku tuliskan disana.. ini pertama kalinya aku membuat CV seperti itu.. Maaf ya Mas)
Selesai ku baca semuanya, mataku berkaca-kaca.. tanganku dan kakiku semakin dingin dan gemetar. ku kepalkan kedua tanganku seperti yang biasa ku lakukan saat aku gugup..
Sungguh aku terkejut… laki-laki itu sebenarnya tidak jauh. bahkan lingkunganku dan lingkungannya tak jauh beda. dan pastilah beberapa temanku mengenalnya..
tapi aku benar-benar tak pernah melihatnya…
Allah selalu tau waktu yang tepat untukku..
Dari semua yang ku baca, tak ada satu halpun yang aku tidak suka. Malah aku merasa dia sepertiku pada beberapa bagian.
Lalu setelah ini bagaimana? setelah ini aku harus melakukan apa?? ku lanjutkan atau ku hentikan?
jika ku hentikan, sedikitpun tak ada alasan syar’i yang bisa ku jadikan alasan kuat untuk menolaknya..
baiklah,, aku hanya berbekal bismillah..ku pilih untuk melanjutkannya…
Dan siapa mengira, sekarang, 1 tahun setelahnya, laki-laki asing itu, laki-laki yang tidak ku kenal itu adalah calon suamiku…
siapa yang mengira laki-laki itulah ternyata satu-satunya laki-laki yang datang meminangku.. dia yang pertama dan satu-satunya..
siapa yang mengira bahwa tak lama lagi laki-laki itu yang akan menikahiku..
siapa yang mengira bahwa bersama laki-laki itulah aku akan melanjutkan hidupku..
Calon suamiku,, tidakkah kau merasa Allah sangat menyayangi kita?
Semua itu tidak akan pernah terjadi tanpa campur tangan dan kehendak-Nya.. bukan begitu?
Kenapa Allah tidak membuatku mengenalmu sejak dulu? Kenapa Allah tidak membuatku bertemu denganmu sejak dulu? bahkan kenapa Allah tidak membuatku melihatmu sejak dulu?
Karena Allah tahu saat yang tepat kapan kita harus saling mengenal..
Karena Allah tahu saat yang tepat dimana kau pantas untukku dan aku pantas untukmu
Karena Allah tahu saat yang tepat dimana kau bisa menerimaku dan aku bisa menerimamu…

Ternyata Aku pun Bisa

Tepat 2 hari yang lalu, 20 Januari 2012, aku mendapatkan sebuah kabar baik. Sungguh sangat bersyukur atas segala nikmat yang Kau berikan padaku Ya Rabb…. tulisan pertamaku yang ku kirimkan untuk sebuah audisi penulisan buku antologi ternyata lolos seleksi dan akan ikut dibukukan. Mungkin ini bukan hal besar bagi orang lain, tapi tidak begitu aku memaknainya.

****

Saat itu sekitar pertengahan tahun 2010, aku ingin mengikuti sebuah acara seminar tentang beasiswa ke Jepang yang diadakan oleh sebuah organisasi. Aku segera menghubungi nomor yang digunakan sebagai contact person untuk mendaftarkan diri, nama yang tertera adalah Ida Fauziah. Seminar tersebut akan diadakan di sebuah universitas ternama di Surabaya. Ku kirimkan email dan sms pada Mbak Ida untuk menanyakan perihal kegiatan seminar tersebut. Mbak Ida dengan sabar membalas satu per satu sms dan email yang ku kirimkan. Menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan jelas, bahkan sampai urusan angkot apa yang harus ku naiki dari terminal bus sampai ke lokasi seminar. Terima kasih banyak ya Mbak Ida sudah sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan adiknya yang bawel ini… ^^ Di acara seminar itulah kami pertama kali bertemu.

Saat pertama kali bertemu Mbak Ida, 21 Juli 2010 di Surabaya.
Mbak Ida yang berdiri di tengah berbaju merah. Wah, kita kompak ya Mbak.
Walaupun nggak janjian, bajunya sama-sama merah..^^

Dari sekedar pembicaraan mengenai seminar, pembicaraan kami pun berlanjut. Mbak Ida tahu benar aku bercita-cita untuk pergi ke Korea (tapi beliau tidak tahu kalau aku juga punya mimpi dan harapan tentang menulis sesuatu ^^). Aku masih ingat pesan beliau, “Banyak orang sukses yang mengawali perjuangannya dengan cara yang tidak mudah”. Kalimat itu menjadi suntikan semangat tersendiri untukku saat-saat itu.

Tak berapa lama kemudian, beliau mengabarkan padaku bahwa beliau dan ketiga putri kecilnya akan pindah ke Malaysia untuk tinggal bersama suami. Suami beliau adalah seorang peneliti di sebuah universitas di Malaysia. Aku memang hanya sempat sekali bertemu dengan beliau, tapi bukan berarti silaturahim terhenti. Walaupun hanya sekedar mengucapkan salam atau menanyakan kabar melalui internet. Aah, tapi disitulah sebuah arti silaturahim.

Sampai sekitar 1 bulan lalu aku mengirimkan message pada beliau untuk bertanya tentang parenting dan homeschooling. Aku pun mengatakan pada beliau bahwa beberapa bulan lagi insya Allah aku akan menikah. Beliau senang sekali mendengarnya. Aku mengatakannya tanpa maksud apapun. Dan subhanallah, begitu penyayangnya Allah..bukankah tidak ada sebuah kebetulan di dunia ini melainkan Allah sudah mengaturnya??

Beberapa minggu setelah message terakhirku itu, Mbak Ida mengirimkan sebuah message yang berisi tentang audisi tulisan untuk ikut serta dibukukan dalam buku yang sedang ditulis Mbak Ida. Tema tulisannya adalah JODOH. Hmmm, sepertinya memang tepat dengan keadaanku saat ini. Jujur saja, aku tidak percaya diri. Merasa belum mampu menulis dengan baik. Sejak SD sampai SMA aku memang rutin menulis buku harian. Tapi hanya sebatas buku harian yang ku baca sendiri, tidak untuk dibaca orang lain. Sejak masuk kuliah pun aku sudah tidak pernah menulis buku harian. Apa bisa?? Mbak Ida memberi semangat untuk mencoba.

Akhirnya jadilah sebuah tulisan 6 halaman yang segera ku kirimkan pada Mbak Ida. Tulisan yang berisi tentang cerita bagaimana aku bertemu dengan calon suamiku. hehehe… Sedikit ada perasaan canggung saat menulis untuk dibaca orang lain. Tapi aku sudah mengantongi izin dari calon suamiku untuk menuliskannya dan ku kirim untuk audisi.

Lagi-lagi,, sebuah kebetulankah? Dulu sekali, aku pernah berangan-angan.. Nanti kalau aku sudah punya calon suami, aku ingin memberikannya hadiah kumpulan cerita sejak pertama aku bertemu dengannya sampai menikah. Aku ingin memberikan hadiah itu padanya di hari kami menikah. Hanya sekedar angan-angan. Karena saat itu aku belum punya calon suami dan tidak tahu kapan akan menikah. Hanya berangan-angan.

Alhamdulillah… karena tulisanku lolos seleksi untuk dibukukan, aku bisa memberikan buku yang didalamnya terselip cerita singkat pertemuan pertama kami hingga akan menikah pada suamiku nanti sebagai hadiah.

Allah,, betapa Engkau mendengar bahkan yang belum sempat terucap dari mulutku..

Big thanks to:
Mbak Ida, terima kasih atas kesempatan yang sudah diberikan padaku. Aku jadi punya hadiah buat suami nanti..^^ semoga lancar proses penerbitan bukunya. Seperti yang Mbak bilang, semoga jadi amal jariyah untuk kita semua. Aamiin..
Teman-teman dekat yang sudah berkenan meluangkan waktunya untuk membaca 6 halaman ceritaku, memberikan komentar dan masukan. Semoga aku kembali menemukan semangat untuk belajar menulis..^^
Last but not least, calon suamiku yang sudah bersedia cerita ini dituliskan dan dibaca banyak orang. Terima kasih untuk komentar dan masukannya. Terima kasih telah melengkapi cerita hidupku. Kalau Mas tidak datang, aku tidak bisa menuliskan cerita apapun. Dan kalau bukan Mas, mungkin ceritanya tidak sama. Semoga bisa menjadi berkah dan manfaat untuk banyak orang.

Semoga rahmat Allah selalu beserta kita semua..

Untukmu Saudariku…

Selamat Datang…

Saudariku yang tekun mendirikan shalat dan berpuasa dengan penuh kepatuhan dan kekhusyukan.

Saudariku yang memakai hijab demi kesopanan, kewibawaan, dan kesucian diri.

Saudariku yang selalu belajar dan menelaah dengan penuh kesadaran dan ketulusan niat.

Saudariku yang selalu menepati janji, bisa dipercaya, dan jujur.

Saudariku yang selalu bersabar, mawas diri, dan bertobat dengan penuh penyesalan.

Saudariku yang selalu berdzikir, bersyukur dan berdoa.

Saudariku yang selalu menjadikan Asiyah, Maryam dan Khadijah sebagai teladan.

Saudariku yang tengah mendidik para calon ksatria dan mencetak orang-orang yang terhormat.

Saudariku yang selalu memelihara nilai-nilai adiluhung dan melestarikan suri tauladan.

Saudariku yang selalu takut dan menjauhi apa-apa yang diharamkan oleh Allah….

 

YA …!

Ya… untuk senyuman indahmu yang menghembuskan cinta dan mengalirkan kasih sayang kepada sesama.

Ya… untuk ucapan-ucapan baikmu yang membangun persahabatan sejati dan menjauhkan rasa dengki.

Ya… untuk dermamu yang membahagiakan si miskin, menyenangkan si fakir dan mengenyangkan si lapar.

Ya… untuk selalu bersanding dengan Al-Qur’an seraya membaca, menghayati, dan mengamalkannya sambil bertobat dan beristighfar.

Ya… untuk senantiasa berdzikir, beristighfar, memanjatkan doa, dan memperbaiki taubat.

Ya… untuk bekerja keras mendidik anak-anakmu dengan agama, mengajarkan sunah-sunah Nabi kepada mereka dan mengarahkan mereka kepada hal-hal yang bermanfaat.

Ya… untuk rasa malu dan hijabmu yang diperintahkan Allah. Itulah satu-satunya cara untuk memelihara kesucian dan kehormatanmu.

Ya… untuk hanya bergaul dengan wanita-wanita baik yang selalu takut pada Allah, mencintai agama, dan menjunjung tinggi nilai-nilainya.

Ya… untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahim, menghormati tetangga, dan menyantuni anak yatim.

Ya… untuk membaca dan menelaah buku-buku yang bermutu dan bermanfaat.

 

TIDAK…!

Tidak… untuk menyia-nyiakan usiamu dengan hal-hal yang tak berguna: misalnya suka membalas dendam dan berdebat tentang perkara-perkara yang tiada bermanfaat.

Tidak… untuk mendewakan harta dan berupaya menimbunnya dengan mengorbankan kesehatan, kebahagiaan, tidur nyenyak dan istirahatmu.

Tidak… untuk mencari-cari kesalahan orang lain, menggunjingnya, dan melupakan kesalahan diri sendiri.

Tidak… untuk tenggelam dalam kenikmatan hawa nafsu dan menuruti segala yang diinginkannya.

Tidak… untuk menghabiskan waktu dengan para pengangguran dan bermain-main yang tiada mendatangkan faidah.

Tidak… untuk mengabaikan kebersihan badan, kerapian rumah, wewangian dan disiplin.

Tidak… untuk minuman-minuman yang diharamkan, rokok, syisyah dan segala sesuatu yang mengandung penyakit.

Tidak… untuk selalu mengingat musibah yang telah berlalu, bencana yang telah lewat, dan kesalahan yang telah terjadi.

Tidak… untuk melupakan akhirat dan bekal untuknya, serta mengabaikan keberadaannya..

Tidak… untuk menghambur-hamburkan harta dalam perkara-perkara yang diharamkan, hura-hura dan kemaksiatan.

 

MAWAR

Mawar Pertama : Ingatlah, Tuhanmu akan mengampuni orang yang minta ampunan, menerima taubat orang yang menyesali dosa-dosanya, dan menyambut setiap hamba yang kembali ke jalan-Nya.

Mawar Kedua : Sayangilah orang-orang yang lemah, niscaya engkau akan bahagia; bantulah orang-orang yang membutuhkan, engkau akan mendapat kepuasan; janganlah engkau tebarkan kebencian, agar engkau selalu selamat.

Mawar Ketiga : Optimislah, karena sesungguhnya Allah selalu bersamamu, para malaikat senantiasa memohonkan ampunan untukmu dan surga telah menantimu.

Mawar Keempat : Hapuslah air matamu dengan berbaik sangka kepada Allah. Usirlah segala duka dengan mengingat semua nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepadamu.

Mawar Kelima : Jangan pernah menyangka bahwa di dunia ini ada orang yang bisa mendapat kebahagiaan sempurna, karena tak seorang pun bisa memperoleh semua yang diinginkannya.

Mawar Keenam : Jadilah seperti pohon kurma; tinggi cita-citanya, kebal dari penyakit, dan bila dilempar dengan batu, ia membalas dengan buah kurmanya.

Mawar Ketujuh : Pernahkah engkau mendengar bahwa kesedihan dapat mengembalikan sesuatu yang telah berlalu dan duka lara dapat memperbaiki sebuah kesalahan? Bila tidak, untuk apa engkau bersedih?

Mawar Kedelapan : Janganlah mencemaskan datangnya ujian dan bencana, tapi songsonglah kenyamanan, kedamaian, dan kesehatan yang pasti datang atas izin Allah.

Mawar Kesembilan : Padamkan api kedengkian di dadamu dengan memaafkan semua yang pernah berbuat salah kepadamu.

Mawar Kesepuluh : Mandi, wudhu, wewangian, siwak, dan kerapian adalah obat mujarab untuk mengatasi segala kerisauan dan kesempitan.

 

BUNGA

Bunga Pertama : Jadilah seperti lebah; hanya hinggap di atas bunga-bunga yang semerbak harum dan di atas ranting-ranting yang segar saja.

Bunga Kedua : Engkau tak punya waktu untuk mengorek aib dan kesalahan orang lain.

Bunga Ketiga : Bila Allah sudah bersamamu, siapa lagi yang harus engkau takuti? Tapi, bila Allah menjadi musuhmu, kepada siapa lagi engkau akan berharap?

Bunga Keempat : Api kedengkian akan menggerogoti tubuh, dan terlalu mudah cemburu adalah laksana api yang membara.

Bunga Kelima : Bila engkau tak bersiap-siap sejak hari ini, maka hari esok tidak akan menjadi milikmu.

Bunga Keenam : Jauhilah tempat hura-hura dan kemaksiatan dengan keteguhan.

Bunga Ketujuh : Jadikanlah dirimu lebih elok dari taman bunga dengan akhlak.

Bunga Kedelapan : Biasakanlah berbuat baik, niscaya engkau akan menjadi manusia yang paling bahagia.

Bunga Kesembilan : Serahkan urusan makhluk itu kepada Penciptanya, orang yang mendengki kepada ajalnya, dan setiap orang yang memusuhimu pada kealpaannya.

Bunga Kesepuluh : Kenikmatan yang haram akan membuahkan penyesalan, kesengsaraan, dan azab yang sangat pedih.

 

– dari bagian pembuka buku MENJADI WANITA PALING BAHAGIA, Dr. ‘Aidh al-Qarni-

 

Mari senantiasa bermuhasabah saudariku…dan jadilah diri sendiri yang paling bahagia,,karena bahagiamu ada dalam dirimu..bukan orang lain..karena bahagiamu terselip dalam setiap proses yang kau lewati untuk menjadi diri yang selalu lebih baik..

Mari tersenyum untuk diri sendiri dan orang lain…tunjukkan betapa bahagianya kita menjadi seorang muslimah…

Semoga Allah selalu meridhai dan memberikan petunjuk pada setiap langkah kita…^^ aamiin….

…Aku turut berbahagia untukmu, Sayang…

4 Mei 2011,,sekitar pukul 15.30 WIB,,setelah yakin telah menyelesaikan semua amanah untuk hari itu,,segera saja bersiap untuk menuju tempat dimana kami berjanji untuk bertemu..

Hujan turun dengan derasnya,, sama seperti hari-hari kemarin.. tapi aku tahu,,deras hujan itu tak akan mengurangi kebahagiaan hatinya, tak akan mengurangi sunggingan senyum di wajahnya.. pun tak akan mengurangi degup jantungnya..

Ya,,sore ini aku akan mengantarkannya pulang ke kampung halaman, untuk mempersiapkan segala sesuatu yang ia perlukan esok hari.. Di sepanjang perjalanan,,seperti perjalanan-perjalanan berdua kami sebelumnya,, selalu saja ada hal-hal yang menarik untuk dibicarakan… dengan tema yang juga tak jauh berbeda dengan sebelumnya.. dari setiap kalimat yang ia ucapkan,,aku bisa menangkap, merasakan,,seolah ia berkata dengan lantangnya “Subhanallah,,Alhamdulillah,,akhirnya aku telah menemukannya”..

Aku tahu dia sangat lelah hari itu, karena harinya begitu penuh dengan aktivitas..tapi tak mengurangi pancaran binar matanya..

Sayang,,aku pun bahagia melihatmu…setelah semua ikhtiar dan doa yang kau panjatkan tulus padaNya..dan akhirnya kau temukan jawabannya..

Setelah perjalanan yang cukup gerah dan melelahkan,, sekitar pukul 21.30,, alhamdulillah,, tiba di rumah yang baru sekali ini aku kunjungi..disambut senyum ramah ibunya..ku raih dan ku cium tangannya..mengucapkan salam dan perkenalan…

Sama…aku pun menangkap binar bahagia itu di mata ibunya..

Malam itu,,kami berdua berbaring di ranjang kecil,,menatap langit-langit kamarnya,,tidak ada perbincangan lagi..dan memutuskan untuk segera mengistirahatkan tubuh ini…

5 Mei 2011,,kokok ayam terdengar nyaring sekali,,suara ayahnya mengumandangkan adzan merdu sekali,,ku sentuh dan guncangkan lengannya,,membangunkannya untuk segera mendirikan shalat Subuh…

setelahnya,,kami disibukkan dengan persiapan untuk acara siang hari ini…pagi itu ia masih sempat mengatakan, “Aku kok ndak deg-deg-an ya Yang”…ia sudah biasa memanggilku dengan sebutan “Yang” kependekan dari “Sayang”..selalu begitu,,dimanapun, dan di depan siapapun..

dengan enteng ku jawab,, “Sekarang masih belum jam 10 Say”,,sambil menyeringai mencubit pinggangnya…menggodanya…

usai dengan segala persiapan bingkisan makanan, kue,,suguhan di meja makan, segera kami berbenah diri,,waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB.. Aku mengetuk pintu kamarnya dan segera masuk untuk berganti pakaian..ku lihat ia berdiri di depan cermin lemarinya..aku tahu ia baru saja menyempurnakan Dhuha-nya..ia putar MP3 Murottal dari Handphonenya…dan kami mulai melantunkan hafalan-hafalan kami lirih,,sambil terus berbenah…mungkin degup jantungnya sudah jauh lebih kencang…

ku siapkan kamera yang sudah ku bawa memang untuk mendokumentasikan hari bahagianya itu..sebelum kemudian ia meminta tolong padaku untuk membetulkan tali pita di bagian belakang pakaiannya..bertanya jilbab mana yang sesuai dengan warna bajunya…dan membantunya mengenakan dan menghias jilbab yang ia pilih…

kemudian kami berdua duduk di atas tikar di sudut kamarnya,,masih terdengar suara lantunan Murottal dan suara lirih kami menghafalnya,,sambil menunggu kedatangan tamu yang sangat ia tunggu…tiba-tiba ia memandangku dan mengungkapkan perasaannya saat itu,, di ujung kalimatnya,,ia ucapkan “Bismillah” sambil kemudian menggenggam tanganku…aku mengangguk dan tersenyum…

tak lama setelah itu,,suara mobil terdengar mendekat ke arah pekarangan rumahnya..kami sontak berdiri dan mendekati jendela untuk memastikan siapa yang datang…tiba-tiba ia menggenggam tanganku erat,, ku rasakan tangannya sedikit dingin dan bergetar,,dan ia berkata, “Yang,,,aku deg-deg-an sekarang”…dan yang aku ucapkan hanya “Bismillah say”…dan kemudian kami keluar kamar untuk menyambut tamu tersebut..tak lupa ku raih kameraku…

Sekitar 25 orang tamu segera memasuki ruang tamu dan duduk di kursi dan karpet yang sudah disiapkan…di tengahnya beberapa jenis kue telah dihidangkan…

Aku duduk di sampingnya,,dan segera asyik dengan kameraku…aku turut mendengarkan semua yang dibicarakan oleh kedua belah pihak…

Sampai akhirnya saat penyerahan cincin,,aku mendekatinya dan sudah siap dengan kameraku.. dibukalah kotak cincin itu,,sepasang cincin sederhana terletak di bagian tengah…pertama, ayahnya menyematkan cincin yang berwarna perak di jari manis tangan kanan laki-laki itu,,kemudian ibu laki-laki itu menyematkan cincin emas di jari manis tangan kanannya…segera saja ku arahkan kameraku,,mengambil fokus pada jari-jarinya…dan tanganku pun bergetar….Sayang,,,bisa ku bayangkan bagaimana perasaanmu saat itu…

**Barakallah Sayangku,,,semoga Allah menghimpunkan kalian dalam keberkahan dan kebahagiaan…bersabar dan bersiaplah menyambut hari itu,,saat amanah suci dan besar Allah amanahkan untukmu…hari dimana engkau akan menjadi halal untuknya,,dan ia menjadi halal untukmu…

Sayang,,sungguh aku turut berbahagia untukmu,,,setelah semua yang kau lewati…

Semoga Allah selalu memberikan keberkahan pada kalian..dan menguatkanmu untuk memulai bahtera barumu sebagai seorang istri dan ibu kelak…

terselip doa tulus dalam hatiku,,semoga tak lama lagi juga akan tersemat cincin sederhana di jari manis tangan kananku…

Love you, Sayang…

Asiah binti Mazahim a.s.

Asiah adalah salah satu istri Rasulullah saw. yang paling mulia dan wanita terbaik penghuni surga. (Diriwayatkan bahwa Rasulullah dinikahkan oleh Allah dnegan Asiah sebagai suami-istri di akhirat). Sosok seorang wanita yang memiliki keimanan tinggi. Namanya terus disebut dan menebarkan keharuman sampai hari Kiamat, tidak akan pernah terputus atau hilang. Sosoknya telah menggoncangkan kekuasaan orang kafir dan memporak-porandakan perbuatan syirik dan penyembahan berhala. Hubungannya dengan Allah sangat dekat, pemahamannya tentang agama sangat luas, perkataannya sangat halus dan tutur katanya sangat sopan.

Pengakuan Islam Atas Kemuliaan Asiah binti Mazahim

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiah binti Mazahim istri Fir’aun.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ath-Thabrani, ath-Thahawi adh-Dhiya’ dengan sanad dari Ibnu Abbas.)

Dalam Al-Qur’an diceritakan sekilas kisah Asiah r.a.,

Pertama, ketika keluarga Fir’aun menemukan Musa a.s. yang dihanyutkan ibunya ke sungai di saat pasukan Fir’aun dan Hamman mencari anak laki-laki yang lahir dari bani Israil. Karena takut atas kehancuran kerajaan dan kekuasaannya, berdasarkan mimpi yang dia alami. Akan tetapi takdir Allah berkata lain, seakan-akan Allah berkata kepada Fir’aun, “Wahai raja yang kejam, yang memiliki banyak pasukan dan kekuasaan yang luas, ketahuilah Zat yang Maha Agung telah menentukan takdir-Nya. Dialah Zat yang Maha Kuasa tidak ada satu pun dapat menghalangi keputusan-Nya, tidak ada satu pun dapat mengubah takdir-Nya. Lihatlah, anak yang membuat kamu takut sehingga kezalimanmu menjadikan anak-anak kecil bani Israil terbunuh dan kaum ibu menangisi kepergian anak-anaknya. Ternyata anak itu ada di rumahmu. Tidur di tempat tidurmu. Ia tidak makan dan minum kecuali dari makanan dan minumanmu. Kamu yang telah mengasuh dan mendidiknya, tetapi ketika dewassa dia menghancurkan kekuasaanmu di dunia dan membinasakan kehidupanmu di akhirat. Semua itu karena kesombonganmu atas apa yang datang dari Zat yang Maha Besar (Allah) dan kedustaanmu atas apa yang diwahyukan kepadanya (Musa). Hendaklah kamu dan seluruh penghuni dunia mengetahui, sesungguhnya Tuhan langit dan bumilah yang dapat melakukan segala apa yang dikehendaki-Nya. Dialah Zat yang Maha Kuat dan Perkasa, yang memiliki kekuasaan yang besar dan tidak ada daya dan upaya kecuali dari-Nya.

Tangan mulia Asiah-lah yang melindungi dan mengasuh bayi itu. Bayi yang kelak menghancurkan kekuasaan dan kezaliman Fir’aun dan tentaranya, “Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” (Al-Qashash [28]:8). Kemudian Musa a.s. menjadi musuh yang mengancam kekuasaan mereka dan kesedihan yang menyelimuti hati mereka. Allah berfirman “Sesungguhnya Fir’aun dan Hamman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (Al-Qashash [28]: 8-9)

Bagaimana Musa a.s. berada di tengah-tengah mereka. Dia seorang anak yang masih kecil, tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri. Mari kita lihat apa yang ditakdirkan Allah kepadanya, “Dan berkatalah istri Fir’aun, ‘Dia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak.’ Sedang mereka tiada menyadari.'” (Al-Qashash [28]:9)

Kekuatan dan kezaliman Fir’aun dapat ditundukkan oleh istrinya, Asiah. Ia melindungi bayi itu dengan rasa cinta dan menyelimutinya dengan kasih sayang seorang ibu. Asiah tidak menghadapi Fir’aun dengan senjata atau kekuasaan tapi dengan kecintaan seorang ibu yang akhirnya meluluhkan kekejaman dan kekerasan hati Fir’aun. Sekarang Fir’aun bersama istrinya merawat dan mendidik Musa a.s. Perkataan Asiah, “Dia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu,” membuat Fir’aun tidak dapat melakukan apa-apa. Perkataan Asiah, “Janganlah kamu membunuhnya” menghalangi Fir’aun dan tentaranya untuk membunuh Musa.

Kedua, keimanan Asiah melalui dakwah Masyithah (tukang sisir keluarga Fir’aun). Kaum wanita mukminah dan salihah harus melatih diri dalam memperjuangkan agama Allah dan mengabdikan diri dalam dakwah Islam dengan berbagai metode. Jangan menganggap sepele untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sedikit pun. Mari kita melihat perjalanan seorang wanita mukminah dan salihah, yang memiliki semangat dan pengabdian tinggi dalam menyampaikan dakwah Islam, sehingga istri seorang penguasa kafir Fir’aun dapat menikmati hidayah dari Allah. Semoga Allah meridhai Masyithah.

Abu al-‘Aliyah bercerita, keimanan istri Fir’aun melalui salah seorang kepercayaan keluarga Fir’aun. Ketika itu ia sedang menyisiri anak wanita Fir’aun, tiba-tiba sisirnya jatuh dan spontan Masyithah mengucapkan, “Binasalah orang yang kufur kepada Allah.” Anak wanita Fir’aun berkata, “Apakah kamu memiliki Tuhan selain bapakku.” Masyithah menjawab, “Benar, Tuhanku, Tuhan bapakmu dan Tuhan segala sesautu adalah Allah.”

Anak itu langsung menampar dan memukul Masyithah, kemudian melaporkan kepada bapaknya. Fir’aun langsung memanggil Masyithah, “Benarkah kamu menyembah Tuhan selain aku?” Masyithah menjawab, “Benar, Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah, hanya kepada-Nya aku menyembah.” Fir’aun langsung menghukumnya. Kedua tangan dan kaki Masyithah diikat dengan ikatan yang sangat kencang. Dilemparkan kepadanya ular-ular, dan penyiksaan ini tidak dilakukan satu atau dua kali tapi berulang-ulang dan berhari-hari. Sampai Fir’aun mendatanginya dan berkata, “Apakah kamu sudah menyerah.” Masyithah tetap berkata ,”Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah.” Fir’aun dengan sangat murka berkata, “Sungguh aku akan menyembelih anakmu di hadapanmu, apabila kamu tidak mau mengubah keyakinanmu.” Masyithah menjawab dengan penuh keberaninan, “Lakukan apa yang kamu ingin lakukan.” Disembelihlah anak Masyithah di hadapannya. Ketika ruhnya keluar, sang anak memberikan kabar gembira kepada ibunya, “Wahai ibuku, berbahagialah sesungguhnya kamu telah mendapatkan pahala yang besar.” Masyithah sabar menghadapi kematian anaknya.

Keesokan harinya Fir’aun kembali mengajukan pertanyaan seperti yang dikatakan sebelumnya, dan Masyithah tetap dalam keimanannya. Maka anak keduanya disembelih di hadapan Masyithah. Ketika ruhnya keluar, terdengar suara, “Wahai ibuku, bersabarlah sesungguhnya kamu telah mendapat pahala yang sangat besar dari Allah.” Ketika itu Asiah istri Fir’aun selalu mendengar suara anak-anak Masyithah, dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Akhirnya Asiah beriman kepada Allah. Begitu pula ketika ruh Masyithah naik ke langit, Allah memperlihatkan kepada Asiah pahala, kedudukan dan kemuliaan Masyithah di surga, sampai akhirnya semakin bertambah keimanan dan keyakinannya kepada Allah. (Tafsir Ibnu Katsir [4/394]). Asiah menyaksikan dan mendengar pengadilan Masyithah. Dia melihat keteguhan imannya, bagaimana Masyithah tidak takut dalam berjuang di jalan Allah meskipun orang-orang mencelanya, bahkan siksaan yang mereka berikan menambah teguh keimanannya dan membuat dirinya berani menyatakan keesaan Allah di negara kafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a., Rasulullah saw. bercerita: Ketika melakukan Isra’ aku mencium bau yang harum sekali, aku bertanya, “Bau harum apa ini?” Jibril menjawab, “Bau harum tukang sisirnya anak Fir’aun (Masyithah) bersama anak-anak dan suaminya, di saat sisirnya jatuh dia spontan membaca, “Bismillah”.

Anak Fir’aun berkata, “Dengan nama bapakku.”

Masyithah menjawab, “Tidak, Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan bapakmu adalah Allah.”

“Apakah kamu memiliki Tuhan selain bapakku?” tanya anak Fir’aun.

“Benar, Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan bapakmu adalah Allah.”

Berita ini didengar Fir’aun, dipanggil Masyithah  dan ditanya, “Apakah kamu memiliki Tuhan selain aku?”

Masyithah menjawab, “Benar, Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah.”

Lalu Fir’aun memerintahkan untuk disiapkan tungku besar yang terbuat dari tembaga, lalu diisi dengan minyak dan dipanaskan. Setelah itu memerintahkan untuk melempar Masyithah ke dalam tungku yang diisi minyak yang telah dipanaskan. Ketika itu Masyithah berkata, “Aku memiliki satu permintaan kepadamu.”

Fir’aun bertanya, “Apa permintaanmu?”

“Kumpulkan tulangku dan tulang anak-anakku dalam satu tempat.”

“Baiklah kalau itu kemauanmu.”

Fir’aun langsung memerintahkan untuk melemparkan anak-anak Masyithah satu per satu. Sampai kepada anak yang masih bayi, saat itu sang anak berkata, “Wahai ibu, lompatlah dan jangan takut sesungguhnya kamu benar.”

Rasulullah bersabda, “Ada empat anak yang dapat berbicara ketika masih bayi: anak ini (anak Masyithah), saksi Yusuf a.s., anak kecil pada masa Juraij dan Isa binti Maryam a.s.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Abu Ya’la) Ini merupakan keimanan yang sangat kokoh, yang dapat menggoncangkan gunung dan tukang-tukang sihir Fir’aun yang akhirnya mereka beriman kepada Tuhan Musa dan Harun a.s. Allah mengisahkan perkataan mereka kepada Fir’aun, “Mereka (tukang sihir Fir’aun) berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan mengutamkan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami, maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).'” (Thahaa [20]:72-73)

Apa yang dilakukan Masyithah sama dengan apa yang dilakukan Asiah binti Mazahim r.a. ketika terjadi pertempuran dua pasukan; pasukan Musa a.s. dan pasukan Fir’aun. Istri Fir’aun bertanya siapa yang menang? salah satu dari pengawalnya berkata, “Musa dan Harun yang menang.” Langsung dengan penuh keberanian dia berkata, “Aku telah beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.” Perkataan Asiah didengar oleh suaminya. Dibawalah Asiah menghadap Fir’aun dan berkata, “Perlihatkan tungku besar (yang diisi minyak mendidih) kepadanya. Apabila ia tetap mengatakan perkataan itu maka lemparkan ke dalam tungku itu. Akan tetapi, apabila dia menarik perkataannya ketahuilah bahwa dia tetap menjadi istriku.”

Tungku itu disiapkan di hadapan Asiah. Dengan tenang ia menengadahkan mukanya ke atas dan matanya melihat ke langit, dan dia melihat rumahnya telah disiapkan di surga maka tanpa ragu lagi ia mengulangi perkataannya, “Aku telah beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.” Langsung ruh keluar dari tubuhnya dan yang dilempar ke dalam tungku adalah tubuh tanpa ruh (Tafsir Ibnu Katsir [3:394]). Mereka menyiksa tubuh Asiah sedangkan ruh Asiah tertawa bahagia melihat rumahnya di surga. Suara tawanya terdengar oleh Fir’aun dan pengikutnya. Fir’aun berkata, “Apakah kalian tidak heran dengan kegilaannya (Asiah)? Kita menyiksanya dan dia malah tertawa.”

Kesabaran, keimanan dan rasa takutnya kepada Allah merupakan contoh bagi setiap kaum wanita mukminah, salihah, ahli ibadah, mujahadah dan yang suka berpuasa. Allah berfirman, “Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman ketika ia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkan untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkan aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim.” (At-Tahrim [66]:11)

Permohonan Asiah yang pertama adalah agar dekat dengan Allah, sebelum dia memohon dibangunkan rumah di surga. Hal itu membuktikan kecintaannya yang sangat besar kepada Allah, karena tujuan utama memiliki rumah di surga adalah agar selalu dekat dengan Allah bukan semata-mata untuk bersenang-senang dengan segala kenikmatan di sana. Riwayat di atas menunjukkan bahwa Asiah beriman setelah peristiwa Masyithah. Ada pula pendapat yang lain dan ini merupakan pendapat yang lebih kuat, bahwa Asiah telah memeluk agama Samawi sebelum peristiwa ini dan sebelum datangnya Nabi Musa. Dia memohon agar diselamatkan dari Fir’aun dan perbuatannya, ini menunjukkan bahwa dia tidak terpengaruh dengan agama kafir yang ada di tengah-tengah kehidupannya. Dia melepaskan istana Fir’aun dan memohon agar mendapatkan rumah di surga. Dia melepaskan hubungan dengan Fir’aun dan memohon keselamatan dari Tuhannya. Dia melepaskan dari perbuatan Fir’aun karena doa yang dipanjatkannya, “Selamatkan akud ari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim.”

Doa yang dipanjatkan istri Fir’aun adalah contoh dari seorang yang menolak kenikmatan dunia dan lebih memilih kenikmatan akhirat. Dia adalah seorang ratu yang paling mulia di muka bumi ini pada saat itu. Dia berada di istana Fir’aun yang dipenuhi dengan segala macam kenikmatan yang diidam-idamkan setiap wanita. Akan tetapi, semua itu terkalahkan dengan ketinggian iman di hatinya. Segala kenikmatan yang ada di depannya bukan anugerah, tetapi musibah, cobaan dan malapetaka baginya. Sehingga dia memohon kepada Allah untuk terhindar dari itu semua dan terbebas dari kezaliman Fir’aun.

Istri Fir’aun adalah contoh wanita yang tidak silau dengan kenikmatan dunia karena dia melihat bahwa kenikmatan akhirat jauh lebih besar dari kenikmatan yang ada di sekelilingnya di istana Fir’aun. Bersamaan dengan Asiah disebutkan juga seorang wanita mukminan salihah yaitu Maryam binti Imran, ini menunjukkan kemuliaan yang ada dalam diri Maryam.

…Dr. Musthafa Murad, Best Women in Heaven…